Bangkalan - Sebagaimana umat Islam pada umumnya, masyarakat Madura juga merayakan Iedul Adha hari ini. Bagi masyarakat Madura, Iedul adha dianggap sebagai hari raya terbesar. Salah satu alasannya, Iedul Adha merupakan momen berbagi daging qurban bagi sesama.
Seperti halnya yang nampak di kampung Manggisan, desa Langkap, kecamatan Burneh, Bangkalan, Madura, jumat (26/10). Ratusan warga berkumpul di lapangan setempat guna menunggu penyembelihan hewan qurban berupa 21 sapi serta 22 kambing. Puluhan hewan qurban tersebut milik warga setempat. Lalu dikumpulkan untuk dilakukan penyembelihan secara bersama-sama yang dikoordinir oleh salah satu ormas Islam di kampung tersebut.
Hari raya Iedul Adha memang sangat semarak dirayakan masyarakat Madura hingg saat ini. Dan penyembelihan puluhan hewan qurban seperti inilah yang menjadi salah satu alasannya. Hal tersebut dikarenakan saat penyembelihan hewan qurban menjadi momen berkumpul bagi warga termasuk orang Madura perantauan. Mereka rela mudik sejenak ke kampung halaman di Madura untuk merayakan Iedul Adha. Baik yang kaya maupun yang miskin, semua berkumpul bersama menjadi satu.
Lalu secara gotong royong mereka menyembelih, membagi dan membersihkan daging hewan qurban ini tanpa melihat strata sosialnya. Fenomena sosial yang mengagumkan dari sebuah momen keagamaan. Hewan – hewan qurban tersebut menjadi salah satu simbol keikhlasan umat untuk berkorban bagi agamanya, terutama sekali berbagi daging qurban untuk sesama.
“Hari ini merupakan hari yang paling besar, Karena hari ini memang melibatkan seluruh lapisan masyarakat”, kata Moh Affandi, salah seorang panitia penyembelihan hewan qurban. “Yang kaya menyumbangkan hewan qurban. Sementara yang tidak mampu menunggu momen pembagian daging qurban”, sambungnya lagi.
Daging hewan qurban ini kemudian dipilah dan dibagi secara rata bagi masyarkat sekitar tanpa terkecuali. Selain karena momen menyembelih hewan qurban, Iedul Adha dianggap sebagai hari raya terbesar karena bersamaan dengan waktu berhaji bagi umat Islam ke Baitullah di Kota Mekah Almukarromah. (Mad Topek)
Tampilkan postingan dengan label Special Madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Special Madura. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 Oktober 2012
Senin, 13 Februari 2012
Catatan Seorang Jurnalis: Mendaki Bukit Sarang Judi Sabung Ayam (Bag. Kedua)
Bumi Madura – Tulisan ini adalah tulisan kedua saya seputar pengalaman pribadi di lapangan sebagai salah seorang ‘buruh’ berita. Sengaja saya bikin catatan ini bertepatan dengan Hari Pers Nasional (HPN) ke 66 tanggal 09 Februari 2012 kemarin. Jika sebelumnya cerita dikejar celurit (Catatan Seorang Jurnalis: Tak Ada Berita Seharga Nyawa! (Bagian I)), kali ini saya sajikan pengalaman saya ikut penggrebekan sarang judi sabung ayam di kawasan perbukitan salah satu kecamatan di Bangkalan (lokasi tepatnya gak usah disebut ya…).
Sebelum saya bercerita, ada yang perlu diketahui. Jurnalisme TV seperti yang saya jalani adalah bagaimana menyajikan gambar (visual) atau dengan kata lain visualisasi berita. Lain halnya dengan jurnalisme media cetak yang hanya memberitakan lewat tulisan meski sesekali harus ada fotonya. TV sangat memprioritaskan penyajian visual/ gambar saat memberitakan sesuatu. Maka menjadi keharusan, semakin bagus gambar dari suatu berita, maka akan semakin sempurnalah berita yang disajikan tersebut.
Wajar jika kemudian saya dan teman-teman jurnalis TV lainnya harus rela blusukan untuk mendapatkan gambar terbaik dari berita yang hendak kami kirim. Nah, saya hendak ikut penggrebekan judi sabung ayam hingga ke lokasi, ya karena hal tersebut.
Oke, saya mulai catatan kali ini. Saya lupa tanggalnya, yang pasti bulan juni 2009. Hari itu sudah siang sekitar jam 11.00 WIB. Saya belum dapat satu berita pun. Saya kemudian coba-coba datang ke Satreskrim Polres Bangkalan. Kali aja ada yang bisa jadi berita. Ngobrol sana-sini sama beberapa teman anggota buser reskrim. Kemudian salah satu dari mereka tanya dalam bahasa Madura, “pola noro’ah be’en Fik? (Mungkin kamu mau ikut Fik?)”.
Setelah saya tanya balik mau kemana, mereka bilang mau ada penggrebekkan 303 ayam (angka 303 adalah pasal perjudian di KUHP). Okelah, aku ikut. Setelah ijin ke Kanit Opsnal Reskrim, akhirnya memang saya putuskan ikut meski saya belum tahu pasti dimana lokasinya. Setahu saya, lokasi sabung ayam di Bangkalan kalau gak di wilayah timur ya di wilayah Bangkalan utara.
Sekitar jam 12.00 WIB kami berangkat. Benar dugaan ku, ternyata memang ke wilayah Bangkalan Utara. Ada tiga mobil saat itu yang hendak meluncur ke lokasi. Satu mobil isi penuh teman2 Sat Intelkam, Satu mobil isi penuh anggota Sat Reskrim. Sementara Satu mobil lagi, yakni mobil Carry Pick Up hanya isi dua orang anggota Reskrim. Aku naik mobil kedua. Jadi dalam rombongan tiga mobil ini hanya saya yang jurnalis, selebihnya ya polisi semua.Mobil yang kami tumpangi terus meluncur ke utara.
Rombongan ini kemudian berhenti di sebuah warung makan. Sambil makan, para anggota polisi itu berembug cara masuk lokasi dan memetakan lokasi maupun kondisi lapangan. Saya tidak terlalu mendengarkannya. Saya kemudian mengobrol sambil ngopi dengan salah satu anggota reskrim (sebut saja namanya Abdul) di salah satu pojok warung (warung makannya lumayan besar dan luas).
“Hayo makan dulu mas”, ujar si Abdul. “Ah gak usah. Masih kenyang,” jawabku. “Hehehe awas loh di lokasi gak ada warung makan. Makanya kenyangin disini aja”, terang Abdul. Aku Cuma senyum aja dan tetap gak makan. Lagi males.
Usai makan dan siap, kami terus meluncur. Dari jalur jalan beraspal mulus, rombongan belok kanan melewati jalanan desa dengan jalan aspal rusak bahkan kemudian hanya berupa jalan berbatu (jalur/ jalan, dan lokasinya sekali lagi tidak saya sebutkan). Yang pasti, jalur yang kami lewati sebenarnya bukan jalur yang lazim. Hal ini dilakukan untuk menghindari perhatian warga. Kali ini saya naik mobil ketiga, carry pick up. Di mobil ini dinaiki tiga orang duduk di depan semua. Karena jalannya berbatu dan menanjak, mobil pick up yg saya tumpangi tertinggal jauh dengan dua mobil lainnya. Sementara cuaca yang sbelumnya cerah berubah menjadi hitam pekat. Lalu hujan deras pun turun!!!
Wuiiiih…….udah menanjak, jalan berbatu ini pun kini mulai licin. Alhasil, mobil pick up yang kami tumpangi kesulitan. Bahkan sesekali terjebak jalan becek. Karena tidak kuat menanjak, saya dan seorang teman Reskrim (dia tinggi besar orangnya dan masih muda) nekad turun dari dalam mobil. Kami berdua mendorong mobil pick up kami dibawah guyuran hujan deras. Sementara seorang teman Reskrim tetap di dalam memegang setir. Kamera dan jaket saya taruh di dalam biar gak kehujanan.
Meski basah kuyup, akhirnya mobil bisa jalan lagi. Karena basah, kami berdua naik di belakang (bak mobil pick up). Bahkan bertelanjang dada. Hujan terus turun dengan deras. Baru beberapa meter, mobil tidak kuat lagi naik. Kami berdua pun turun mendorong lagi. Begitulah terjadi berkali-kali hingga akhirnya hujan berhenti.
Sepanjang perjalanan, kami bertemu warga-warga setempat. Mereka mengira kami juga mau datang untuk ikutan berjudi sabung ayam. Tapi itu yang memang kami inginkan agar tidak ketahuan. Bahkan dua pistol revolver milik kedua teman reskrim ku disembunyikan di balik jok agar tidak ketahuan warga.
Mobil kami kemudian berhenti di dekat sungai kecil menuju lokasi. Kenapa? Haaaaa…..ternyata jembatan kecil di atas sungai tersebut sudah dibongkar!!! Papan jembatan sudah hilang! Dari hasil pemeriksaan, kami bertiga berkesimpulan bahwa papan-papan jembatan tersebut baru saja dibongkar. Kemungkinan dibongkar setelah dua mobil rombongan teman kami melewatinya. Karena kami tidak melihat kedua mobil tersebut. Sementara di samping kanan-kiri kami, berupa hutan lebat.
Siapa yang membongkar? Menurut kedua teman reskrim ku tersebut, papan-papan jembatan ini dibongkar oleh warga agar mobil polisi lainnya tidak bisa lewat menuju lokasi sabung ayam. Dan ini biasa terjadi. Dari tempat jembatan ini, lokasi sabung ayam yang kami tuju masih 5 hingga 10 km lagi diatas bukit. Itu pun jalan nya pun berbatu. Akhirnya kami putuskan menunggui mobil kami.
Sekitar setengah jam kemudian, rombongan polisi lain datang dari Polres Bangkalan. Mereka terdiri atas 3 truk dan 2 mobil patrol polisi yang berisi penuh anggota. Rombongan ini merupakan back up group saat melakukan penggrebekan yang memang sengaja diberangkatkan belakangan. Tapi sama halnya dengan kami, rombongan besar ini tak bisa melanjutkan perjalanan menuju lokasi karena papan-papan jembatan yang sudah dicopotin semua.
Sambil duduk-duduk, seorang anggota polisi bercerita. Para penjudi sabung ayam maupun pemilik tempat judinya, biasanya memang menaruh orang di jalan beberapa kilometer dari lokasi. Ini dilakukan agar jika ada ‘orang mencurigakan’ (polisi maksudnya) cepat bisa terdeteksi. Dengan arti lain, mata-mata ini memiliki peran penting untuk mencegah terjadinya penggrebekan oleh polisi.
Dari beberapa perbincangan dengan beberapa orang termasuk polisi, ada banyak factor kenapa judi sabung ayam sulit diberantas dan sulit untuk di-grebek. Pertama, lokasi sabung ayam biasanya di kawasan perbukitan yang memiliki medan berat, termasuk jalan yang menuju lokasi. Dengan begitu otomatis akan mempersulit polisi saat melakukan penggrebekan.
Factor kedua, adanya orang-orang (mata-mata) yang ditaruh di sepanjang jalan menuju lokasi judi sabung ayam. Seperti yang saya sebutkan, mata-mata ini sengaja di’berdayakan’ oleh para penjudi agar bisa mendeteksi sedini mungkin kedatangan polisi. Merekalah kemudian yang akan mengabarkan ke para penjudi jika ada polisi yang hendak masuk lokasi. Dengan begitu, ada cukup waktu bagi para penjudi untuk segera bubar dan melarikan diri.
Faktor ketiga, polisi nakal! Judi sabung ayam akan sulit digrebek, jika ada anggota polisi yang sudah membocorkan terlebih dahulu kepada para penjudi. Jika rencana penggrebekan sudah bocor, maka polisi yang datang ke lokasi tidak akan memperoleh hasil apapun.
Factor ke empat, setoran! Nah ini dia….. Judi sabung ayam akan sulit diberantas. Lokasi sabung ayam tersebut akan aman dari penggrebekan polisi jika para penjudinya selalu menyetor ke aparat kepolisian. Siapa saja yang menerima? Nah, no komen saya! Hehehe Tafsirkan sendiri!
Saya pikir sampai disini saja catatan saya. Ceritanya kagak usah diterusin. Panjang ceritanya termasuk saat kami kembali kehujanan di tengah hutan gelap gulita!Yang pasti kami pulang kembali ke kota Bangkalan sekitar jam 19.30 WIB. Catatan bagian kedua ini sekaligus bagian terakhir. Insyaallah setahun lagi tepat hari Pers Nasional 2013 saya tulis lagi catatan jurnalisme saya. (Mad Topek)
Sebelum saya bercerita, ada yang perlu diketahui. Jurnalisme TV seperti yang saya jalani adalah bagaimana menyajikan gambar (visual) atau dengan kata lain visualisasi berita. Lain halnya dengan jurnalisme media cetak yang hanya memberitakan lewat tulisan meski sesekali harus ada fotonya. TV sangat memprioritaskan penyajian visual/ gambar saat memberitakan sesuatu. Maka menjadi keharusan, semakin bagus gambar dari suatu berita, maka akan semakin sempurnalah berita yang disajikan tersebut.
Wajar jika kemudian saya dan teman-teman jurnalis TV lainnya harus rela blusukan untuk mendapatkan gambar terbaik dari berita yang hendak kami kirim. Nah, saya hendak ikut penggrebekan judi sabung ayam hingga ke lokasi, ya karena hal tersebut.
Oke, saya mulai catatan kali ini. Saya lupa tanggalnya, yang pasti bulan juni 2009. Hari itu sudah siang sekitar jam 11.00 WIB. Saya belum dapat satu berita pun. Saya kemudian coba-coba datang ke Satreskrim Polres Bangkalan. Kali aja ada yang bisa jadi berita. Ngobrol sana-sini sama beberapa teman anggota buser reskrim. Kemudian salah satu dari mereka tanya dalam bahasa Madura, “pola noro’ah be’en Fik? (Mungkin kamu mau ikut Fik?)”.
(Keterangan foto: ini dia foto kenang-kenangan kami di kawasan perbukitan wilayah Bangkalan Utara. Kanan kiri kami itu hutan lebat. dan pastinya gelap gulita. Lampu penerangan hanya mengandalkan lampu mobil dan senter kecil yang sempat dibawa para dulur-dulur polisi iki.)
Setelah saya tanya balik mau kemana, mereka bilang mau ada penggrebekkan 303 ayam (angka 303 adalah pasal perjudian di KUHP). Okelah, aku ikut. Setelah ijin ke Kanit Opsnal Reskrim, akhirnya memang saya putuskan ikut meski saya belum tahu pasti dimana lokasinya. Setahu saya, lokasi sabung ayam di Bangkalan kalau gak di wilayah timur ya di wilayah Bangkalan utara.
Sekitar jam 12.00 WIB kami berangkat. Benar dugaan ku, ternyata memang ke wilayah Bangkalan Utara. Ada tiga mobil saat itu yang hendak meluncur ke lokasi. Satu mobil isi penuh teman2 Sat Intelkam, Satu mobil isi penuh anggota Sat Reskrim. Sementara Satu mobil lagi, yakni mobil Carry Pick Up hanya isi dua orang anggota Reskrim. Aku naik mobil kedua. Jadi dalam rombongan tiga mobil ini hanya saya yang jurnalis, selebihnya ya polisi semua.Mobil yang kami tumpangi terus meluncur ke utara.
Rombongan ini kemudian berhenti di sebuah warung makan. Sambil makan, para anggota polisi itu berembug cara masuk lokasi dan memetakan lokasi maupun kondisi lapangan. Saya tidak terlalu mendengarkannya. Saya kemudian mengobrol sambil ngopi dengan salah satu anggota reskrim (sebut saja namanya Abdul) di salah satu pojok warung (warung makannya lumayan besar dan luas).
“Hayo makan dulu mas”, ujar si Abdul. “Ah gak usah. Masih kenyang,” jawabku. “Hehehe awas loh di lokasi gak ada warung makan. Makanya kenyangin disini aja”, terang Abdul. Aku Cuma senyum aja dan tetap gak makan. Lagi males.
Usai makan dan siap, kami terus meluncur. Dari jalur jalan beraspal mulus, rombongan belok kanan melewati jalanan desa dengan jalan aspal rusak bahkan kemudian hanya berupa jalan berbatu (jalur/ jalan, dan lokasinya sekali lagi tidak saya sebutkan). Yang pasti, jalur yang kami lewati sebenarnya bukan jalur yang lazim. Hal ini dilakukan untuk menghindari perhatian warga. Kali ini saya naik mobil ketiga, carry pick up. Di mobil ini dinaiki tiga orang duduk di depan semua. Karena jalannya berbatu dan menanjak, mobil pick up yg saya tumpangi tertinggal jauh dengan dua mobil lainnya. Sementara cuaca yang sbelumnya cerah berubah menjadi hitam pekat. Lalu hujan deras pun turun!!!
Wuiiiih…….udah menanjak, jalan berbatu ini pun kini mulai licin. Alhasil, mobil pick up yang kami tumpangi kesulitan. Bahkan sesekali terjebak jalan becek. Karena tidak kuat menanjak, saya dan seorang teman Reskrim (dia tinggi besar orangnya dan masih muda) nekad turun dari dalam mobil. Kami berdua mendorong mobil pick up kami dibawah guyuran hujan deras. Sementara seorang teman Reskrim tetap di dalam memegang setir. Kamera dan jaket saya taruh di dalam biar gak kehujanan.
Meski basah kuyup, akhirnya mobil bisa jalan lagi. Karena basah, kami berdua naik di belakang (bak mobil pick up). Bahkan bertelanjang dada. Hujan terus turun dengan deras. Baru beberapa meter, mobil tidak kuat lagi naik. Kami berdua pun turun mendorong lagi. Begitulah terjadi berkali-kali hingga akhirnya hujan berhenti.
Sepanjang perjalanan, kami bertemu warga-warga setempat. Mereka mengira kami juga mau datang untuk ikutan berjudi sabung ayam. Tapi itu yang memang kami inginkan agar tidak ketahuan. Bahkan dua pistol revolver milik kedua teman reskrim ku disembunyikan di balik jok agar tidak ketahuan warga.
Mobil kami kemudian berhenti di dekat sungai kecil menuju lokasi. Kenapa? Haaaaa…..ternyata jembatan kecil di atas sungai tersebut sudah dibongkar!!! Papan jembatan sudah hilang! Dari hasil pemeriksaan, kami bertiga berkesimpulan bahwa papan-papan jembatan tersebut baru saja dibongkar. Kemungkinan dibongkar setelah dua mobil rombongan teman kami melewatinya. Karena kami tidak melihat kedua mobil tersebut. Sementara di samping kanan-kiri kami, berupa hutan lebat.
Siapa yang membongkar? Menurut kedua teman reskrim ku tersebut, papan-papan jembatan ini dibongkar oleh warga agar mobil polisi lainnya tidak bisa lewat menuju lokasi sabung ayam. Dan ini biasa terjadi. Dari tempat jembatan ini, lokasi sabung ayam yang kami tuju masih 5 hingga 10 km lagi diatas bukit. Itu pun jalan nya pun berbatu. Akhirnya kami putuskan menunggui mobil kami.
Sekitar setengah jam kemudian, rombongan polisi lain datang dari Polres Bangkalan. Mereka terdiri atas 3 truk dan 2 mobil patrol polisi yang berisi penuh anggota. Rombongan ini merupakan back up group saat melakukan penggrebekan yang memang sengaja diberangkatkan belakangan. Tapi sama halnya dengan kami, rombongan besar ini tak bisa melanjutkan perjalanan menuju lokasi karena papan-papan jembatan yang sudah dicopotin semua.
Sambil duduk-duduk, seorang anggota polisi bercerita. Para penjudi sabung ayam maupun pemilik tempat judinya, biasanya memang menaruh orang di jalan beberapa kilometer dari lokasi. Ini dilakukan agar jika ada ‘orang mencurigakan’ (polisi maksudnya) cepat bisa terdeteksi. Dengan arti lain, mata-mata ini memiliki peran penting untuk mencegah terjadinya penggrebekan oleh polisi.
Dari beberapa perbincangan dengan beberapa orang termasuk polisi, ada banyak factor kenapa judi sabung ayam sulit diberantas dan sulit untuk di-grebek. Pertama, lokasi sabung ayam biasanya di kawasan perbukitan yang memiliki medan berat, termasuk jalan yang menuju lokasi. Dengan begitu otomatis akan mempersulit polisi saat melakukan penggrebekan.
Factor kedua, adanya orang-orang (mata-mata) yang ditaruh di sepanjang jalan menuju lokasi judi sabung ayam. Seperti yang saya sebutkan, mata-mata ini sengaja di’berdayakan’ oleh para penjudi agar bisa mendeteksi sedini mungkin kedatangan polisi. Merekalah kemudian yang akan mengabarkan ke para penjudi jika ada polisi yang hendak masuk lokasi. Dengan begitu, ada cukup waktu bagi para penjudi untuk segera bubar dan melarikan diri.
Faktor ketiga, polisi nakal! Judi sabung ayam akan sulit digrebek, jika ada anggota polisi yang sudah membocorkan terlebih dahulu kepada para penjudi. Jika rencana penggrebekan sudah bocor, maka polisi yang datang ke lokasi tidak akan memperoleh hasil apapun.
Factor ke empat, setoran! Nah ini dia….. Judi sabung ayam akan sulit diberantas. Lokasi sabung ayam tersebut akan aman dari penggrebekan polisi jika para penjudinya selalu menyetor ke aparat kepolisian. Siapa saja yang menerima? Nah, no komen saya! Hehehe Tafsirkan sendiri!
Saya pikir sampai disini saja catatan saya. Ceritanya kagak usah diterusin. Panjang ceritanya termasuk saat kami kembali kehujanan di tengah hutan gelap gulita!Yang pasti kami pulang kembali ke kota Bangkalan sekitar jam 19.30 WIB. Catatan bagian kedua ini sekaligus bagian terakhir. Insyaallah setahun lagi tepat hari Pers Nasional 2013 saya tulis lagi catatan jurnalisme saya. (Mad Topek)
Sabtu, 11 Februari 2012
Catatan Seorang Jurnalis: Tak Ada Berita Seharga Nyawa! (Bagian I)
Bumi Madura – Sebenarnya sudah saya rencanakan mau nulis dan hendak posting tulisan ini dua hari yang lalu tepat tanggal 09 Pebruari 2012 kemarin di blog saya, Republik Madura. Karena tepat tanggal tersebut, semua insan pers se-Indonesia memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke-66. Namun banyaknya kesibukan termasuk rutinitas mengirim berita, ya akhirnya tertunda hari ini.
Tulisan ini memang sengaja saya buat sebagai salah satu cara memperingati HPN ke 66 tahun ini.
Saya masih ingat, tepat tanggal 16 September 2004, saya bergabung dengan RCTI Biro Jawa Timur. Artinya, sudah 7,5 tahun lebih saya menjadi ‘buruh’ di lapangan sebagai The News Hunter, pemburu berita. Sejak tanggal tersebut hingga sekarang, saya menjadi ‘supplier’ berita bagi MNC group untuk wilayah Bangkalan – Sampang, Madura.
Awal turun di lapangan, tidak ada catatan khusus yang bisa saya ceritakan. Karena semuanya hanya rutinitas mencari berita dan mengirimnya. Meski itu menjadi hal yang baru bagi kehidupan saya secara pribadi.
Catatan khusus dalam perjalanan karir jurnlistik saya baru terjadi bulan januari 2006 (saya lupa tanggalnya). Saat itu ada sebuah liputan menarik: tindakan sewenang-menang seorang oknum perangkat desa yang dengan seenaknya menjual asset/ perangkat belajar mengajar sebuah sekolah dasar negeri yang berada di desa nya. Warga setempat dan para guru di sekolah ini tidak bisa apa-apa alias tidak berani melawan sang aparat desa. Berita ini sebenarnya sudah ditulis sebuah harian lokal di Madura.
Karena menarik, saya ajak seorang teman beranama Munif. Dia wartawan stringer salah satu TV nasional untuk wilayah Bangkalan. Selain karena lokasinya lumayan jauh (lokasi tepatnya tidak usah saya sebutkan, demi keamanan bersama. Hehehe), juga karena memang ada kabar dari teman-teman wartawan lain bahwa situasi di desa yang bersangkutan sedang tidak kondusif.
Disamping karena berita tersebut sudah keluar di harian lokal, keluarga sang aparat desa terebut sedang di’target’ polisi karena terlibat dalam penyelewengan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT). Jadi tentu sangat rawan melakukan peliputan di desa tersebut, apalagi isi berita liputannya akan langsung ‘menohok’ sang aparat desa.
Melihat kondisi ini, saya minta bantuan seorang teman. Sebut saja namanya Abdul. Si Abdul ini warga desa tersebut. Jadi dia paham betul apa yang harus dilakukan jika saat liputan ada masalah dengan sang aparat desa. Perlu jadi catatan, di Madura seorang petinggi apatur desa diistilah oleh teman-teman seperti ‘Raja Kecil’ karena dari saking berpengaruhnya jabatan tersebut. Untuk selanjutnya sang aparat desa saya tulis ‘Si Raja Kecil’.
Besoknya sekitar pukul 08.00 WIB kami bertiga berangkat. Saya, Munif dan si Abdul dengan naik sepeda motor. Sesampai di desa tersebut, sekitar 1 kilometer sebelum lokasi SD yang kami tuju, kami berhenti di sebuah gardu/ pos kamling. Dari dalam gardu muncul tiga orang teman dari si Abdul. Saya tidak kenal ketiganya. Kata si Abdul, mereka bertiga-lah yang akan mengawal kita saat melakukan peliputan. “Mereka bertiga orang blater (istilah untuk jagoan, bhs Madura) yang juga musuh di ‘Raja Kecil’,” terang si Abdul.
“Okelah kalau begitu”, jawab ku. Saya pun lebih tenang karena ada yang mengawal keberadaan kami di desa ini. Lalu kami melanjutkan menuju lokasi. Untuk sampai di lokasi, kami melewati depan rumah si Raja Kecil yang jaraknya hanya sekitar 400 meter ke lokasi sekolah yang kami tuju.
Dari jalan raya desa yang beraspal mulus, kami belok ke kanan melewati jalan makadam (jalanan berbatu sekitar 100 meter) dan sampailah di sekolah tersebut (nama sekolah juga tidak usah saya sebutkan yaaa….). Para guru dan siswa di sekolah ini menyambut kami dengan hangat. Selain kedatangan kami untuk meliput kondisi mereka yang memprihatikan, juga biasalah, orang pasti senang masuk tivi bukan?
Kenapa memprihatinkan? Seperti saya tulis sebelumnya, perangkat/ perabotan belajar di sekolah ini dijual oleh si raja kecil. Ruangan kelas pun hanya ada tiga (termasuk ruangan guru/ kepala sekolah). Sebagian siswa pun belajar lesehan di bawah pohon depan sekolah termasuk belajar dengan cara lesehan di rumah-rumah warga setempat. Suasana inilah yang masuk dalam bidikan kamera saya.
Saat mengambil gambar, tidak ada insiden apapun. Saya dengan bebas dan nyantai ambil gambar semua momen. Apalagi para guru tidak keberatan. Meski tidak ada satu pun guru yang mau diwawancarai. Takut sama si raja kecil, katanya. Akhirnya wawancara saya minta ke salah satu dari tiga orang yang mengawal saya (kebetulan mereka adalah orang tua siswa di sekolah ini).
Meski saat ambil gambar relative lancar, hanya….saat mengambil gambar itulah saya sempat melihat ada sekelebat orang setengah berlari di antara rumah warga. Tapi saya tepis itu dan pura-pura tidak ada apa-apa.
Setelah selesai ambil gambar, saya, Munif dan si Abdul pamit pulang. Ketiga pengawal kami pun kami tinggal di sekolah tersebut. Munif yang menyetir motor ku. Saya membonceng. Sementara Abdul naik motor sendirian di belakang motor kami. Nah, saat keluar dari jalan makadam sekolah….ketika Munif belok kiri di jalanan aspal, dari arah depan (arah utara) muncul si raja kecil dengan menenteng celurit terhunus bersama dua orang pengawalnya dan menenteng celurit pula!
Abdul yang ada di belakang kami teriak, “Si raja kecil!”. Abdul langsung belok ke kanan dan tancap gas. Sementara kami yang sudah terlanjur belok kiri, menjadi panic! Munif lalu memutar sepeda motor ke arah kanan. Karena panic dan jalan aspal di desa ini tidak terlalu lebar, ban depan motor mengenai tanah berlumpur di bahu jalan (kemungkinan semalam hujan, jadi becek).
Ban motor kami yang terjebak lumpur membuat kami jatuh dari atas motor. Munif tertindih motor. Aku berusaha bangkit dengan kondisi sepatu ku penuh lumpur. Saya lihat dari arah utara si raja kecil bersama kedua pengawalnya berlari menghampiri kami dengan celurit diacungkan ke atas. Saat itu saya berteriak dengan bahasa Madura yang dalam bahasa Indonesia nya “Pak….pak…pak. Tunggu (maksudnya jgn asal marah)”.
Panik bercampur ketakutan. Saat itu saya hanya ingat MATI. Jika si raja kecil meminta kamera kami beserta kasetnya, akan saya berikan!!! Seperti judul tulisan ini: TIDAK ADA BERITA SEHARGA NYAWA! Sempat saya lihat si Abdul berhenti sekitar 500 meter dari posisi kami. Dia diam saja di atas motornya melihat kami. Sempat dalam hati saya mengumpatnya karena lari duluan padahal dia sebelumnya bilang, “saya yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa”.
Dalam kondisi genting seperti inilah, dari arah barat (dari arah sekolah) muncul ketiga pengawal kami yang tadi kami tinggal di sekolah. Mungkin mereka bertiga melihat dan mendengar saat kami terjatuh. Saat si raja kecil dan kedua pengawalnya tinggal beberapa meter lagi ‘menghantam’ saya dan Munif, ketiga pengawal kami langsung berdiri menghadang rombongan si raja kecil.
Dengan lantang salah satu pengawal kami bilang “Ajiyah tang oreng. Marah la tattak mon Bengal (Mereka ini orang-orang saya. Silahkan tebas kalau berani)”. Ketiga pengawal kami bahkan serentak mencabut pisau panjang dari balik baju mereka. Mendengar teriakan tersebut, rombongan si raja kecil menghentikan langkahnya. Bahkan mereka menurunkan celurit mereka yang sebelumnya teracung ke atas.
Melihat situasi ini, tensi kepanikan saya dan Munif menurun. Lebih tenang. Munif yang terjepit motor pun lalu saya bantu berdiri.
Sementara ketiga pengawal kami dengan si raja kecil dan kedua pengawalnya terlibat cekcok mulut. Beberapa warga setempat saya lihat hanya berdiri mematung menyaksikan momen ini. Tengkar mulut kedua pihak berusaha diredam seorang perempuan (kata si Abdul, perempuan tersebut adalah istri si Raja Kecil.
Lalu salah satu pengawal kami bilang, “sudah mas. Sampeyan pulang aja. Ini urusan kami”. Lega hati saya. Lalu dengan munif, saya naik motor pelan ke arah selatan menghampiri si Abdul dan terus melaju ke arah selatan menuju kota Bangkalan. Kami melewati jalan akses Suramadu (saat itu jalan akses Suramadu belum selesai. Masih berupa makadam dan sebagian masih berdebu. Motor yang kami tumpangi melaju kencang. Si Abdul tertinggal di belakang kami.
Di jalanan ini lah saya sempat suruh Munif menghentikan motor. Munif Tanya kenapa? Saya jawab dengan senyum kecut “Sialan. Dengkul/ betis ku gemetaran gak mau berhenti”. Munif tertawa setengah ngakak. Saya memang orang Madura asli. Sejak kecil hingga cari nafkah hidup di Madura (kecuali waktu kuliah). Namun dikejar celurit terhunus, ini baru pertama kali! Mungkin inilah kenapa seharusnya jurnalis yang bertugas di daerah seharusnya memang asli daerah tersebut. Selain lebih mengenal medan dan karakter masyarakatnya, juga agar selalu siap mental ketika menghadapi kondisi seperti ini.
Setelah kami sampai di kota Bangkalan, kami langsung menuju pos 9 (istilah warung yang menjaidi tempat nongkrong para wartawan di Bangkalan). Saya dan Munif membersihkan lumpur yang mengotori celana dan sepatu kami. Ibu yang punya warung dan teman2 wartawan lain heran, ada apa? Kami tidak menjawab.
Selesai membersihkan lumpur, kami cerita pada teman2. Seorang teman wartawan bertanya dengan nada bercanda “kamu ambil gambarnya gak waktu insiden itu?”. Haaaargh….sialan! Saya jawab “boro-boro mau ambil gambar, wong kita aja sudah panic kok!”.
Lalu bersama teman2 wartawan lainnya, kami menghadap Kapolres Bangkalan, AKBP Erwin Rusmana. Mendengar cerita kami, Kapolres memberikan dua pilihan: Diselesaikan secara ‘adat’ (kekeluargan) atau diselesaikan secara hukum. Jika yang kedua dipilih, Kapolres berjanji akan langsung menciduk si raja kecil karena tindakannya sudah masuh ranah kriminal.
Namun kami (para wartawan) sepakat menyelesaikannya secara adat. Setelah keluar dari ruangan Kapolres, kami langsung berkoordinasi dengan para raja kecil desa lain dan tokoh – tokoh masyarakat setempat untuk menyelesaikan ini. Biar selesai sampai disini saja maksudnya. Tidak usah diperpanjang.
Setelah dari Polres, saya sempatkan memberitahukan insiden ini ke kantor ku, RCTI Biro Jatim. Kepada mas Iwan Manaf (produser), saya ceritakan semua. Mas Iwan bilang, siap mem-back up kalau ada apa-apa. Mas Iwan juga Tanya “terus beritanya (berita tentang sekolah, bukan berita tentang insiden) kamu tetap kirim atau tidak?”. Aku jawab “Tetap saya kirim mas. Ga apa-apa. Tapi gak usah tulis nama aparat desa nya”.
Dan memang akhirnya semua berakhir dengan baik. Bahkan si raja kecil yang mengejar kami dengan celurit, berkali-kali bertemu dengan ku pada beberapa momen. Pernah di suatu kesempatan aku bertemu dengan nya dan berbicara panjang lebar. Dia minta maaf atas kekeliruannya. Saya pun juga minta maaf karena sudah ‘lancang’ masuk ke wilayah (desa nya) si raja kecil.
Ya, ini hanya sekedar kisah nyata kecil dari kehidupan seorang jurnalis. Kita ketemu pada tulisan ku bagian kedua tentang Catatan Seorang Jurnalis. (Mad Topek)
Tulisan ini memang sengaja saya buat sebagai salah satu cara memperingati HPN ke 66 tahun ini.
Saya masih ingat, tepat tanggal 16 September 2004, saya bergabung dengan RCTI Biro Jawa Timur. Artinya, sudah 7,5 tahun lebih saya menjadi ‘buruh’ di lapangan sebagai The News Hunter, pemburu berita. Sejak tanggal tersebut hingga sekarang, saya menjadi ‘supplier’ berita bagi MNC group untuk wilayah Bangkalan – Sampang, Madura.
Awal turun di lapangan, tidak ada catatan khusus yang bisa saya ceritakan. Karena semuanya hanya rutinitas mencari berita dan mengirimnya. Meski itu menjadi hal yang baru bagi kehidupan saya secara pribadi.
Catatan khusus dalam perjalanan karir jurnlistik saya baru terjadi bulan januari 2006 (saya lupa tanggalnya). Saat itu ada sebuah liputan menarik: tindakan sewenang-menang seorang oknum perangkat desa yang dengan seenaknya menjual asset/ perangkat belajar mengajar sebuah sekolah dasar negeri yang berada di desa nya. Warga setempat dan para guru di sekolah ini tidak bisa apa-apa alias tidak berani melawan sang aparat desa. Berita ini sebenarnya sudah ditulis sebuah harian lokal di Madura.
Karena menarik, saya ajak seorang teman beranama Munif. Dia wartawan stringer salah satu TV nasional untuk wilayah Bangkalan. Selain karena lokasinya lumayan jauh (lokasi tepatnya tidak usah saya sebutkan, demi keamanan bersama. Hehehe), juga karena memang ada kabar dari teman-teman wartawan lain bahwa situasi di desa yang bersangkutan sedang tidak kondusif.
Disamping karena berita tersebut sudah keluar di harian lokal, keluarga sang aparat desa terebut sedang di’target’ polisi karena terlibat dalam penyelewengan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT). Jadi tentu sangat rawan melakukan peliputan di desa tersebut, apalagi isi berita liputannya akan langsung ‘menohok’ sang aparat desa.
Melihat kondisi ini, saya minta bantuan seorang teman. Sebut saja namanya Abdul. Si Abdul ini warga desa tersebut. Jadi dia paham betul apa yang harus dilakukan jika saat liputan ada masalah dengan sang aparat desa. Perlu jadi catatan, di Madura seorang petinggi apatur desa diistilah oleh teman-teman seperti ‘Raja Kecil’ karena dari saking berpengaruhnya jabatan tersebut. Untuk selanjutnya sang aparat desa saya tulis ‘Si Raja Kecil’.
Besoknya sekitar pukul 08.00 WIB kami bertiga berangkat. Saya, Munif dan si Abdul dengan naik sepeda motor. Sesampai di desa tersebut, sekitar 1 kilometer sebelum lokasi SD yang kami tuju, kami berhenti di sebuah gardu/ pos kamling. Dari dalam gardu muncul tiga orang teman dari si Abdul. Saya tidak kenal ketiganya. Kata si Abdul, mereka bertiga-lah yang akan mengawal kita saat melakukan peliputan. “Mereka bertiga orang blater (istilah untuk jagoan, bhs Madura) yang juga musuh di ‘Raja Kecil’,” terang si Abdul.
“Okelah kalau begitu”, jawab ku. Saya pun lebih tenang karena ada yang mengawal keberadaan kami di desa ini. Lalu kami melanjutkan menuju lokasi. Untuk sampai di lokasi, kami melewati depan rumah si Raja Kecil yang jaraknya hanya sekitar 400 meter ke lokasi sekolah yang kami tuju.
Dari jalan raya desa yang beraspal mulus, kami belok ke kanan melewati jalan makadam (jalanan berbatu sekitar 100 meter) dan sampailah di sekolah tersebut (nama sekolah juga tidak usah saya sebutkan yaaa….). Para guru dan siswa di sekolah ini menyambut kami dengan hangat. Selain kedatangan kami untuk meliput kondisi mereka yang memprihatikan, juga biasalah, orang pasti senang masuk tivi bukan?
Kenapa memprihatinkan? Seperti saya tulis sebelumnya, perangkat/ perabotan belajar di sekolah ini dijual oleh si raja kecil. Ruangan kelas pun hanya ada tiga (termasuk ruangan guru/ kepala sekolah). Sebagian siswa pun belajar lesehan di bawah pohon depan sekolah termasuk belajar dengan cara lesehan di rumah-rumah warga setempat. Suasana inilah yang masuk dalam bidikan kamera saya.
Saat mengambil gambar, tidak ada insiden apapun. Saya dengan bebas dan nyantai ambil gambar semua momen. Apalagi para guru tidak keberatan. Meski tidak ada satu pun guru yang mau diwawancarai. Takut sama si raja kecil, katanya. Akhirnya wawancara saya minta ke salah satu dari tiga orang yang mengawal saya (kebetulan mereka adalah orang tua siswa di sekolah ini).
Meski saat ambil gambar relative lancar, hanya….saat mengambil gambar itulah saya sempat melihat ada sekelebat orang setengah berlari di antara rumah warga. Tapi saya tepis itu dan pura-pura tidak ada apa-apa.
Setelah selesai ambil gambar, saya, Munif dan si Abdul pamit pulang. Ketiga pengawal kami pun kami tinggal di sekolah tersebut. Munif yang menyetir motor ku. Saya membonceng. Sementara Abdul naik motor sendirian di belakang motor kami. Nah, saat keluar dari jalan makadam sekolah….ketika Munif belok kiri di jalanan aspal, dari arah depan (arah utara) muncul si raja kecil dengan menenteng celurit terhunus bersama dua orang pengawalnya dan menenteng celurit pula!
Abdul yang ada di belakang kami teriak, “Si raja kecil!”. Abdul langsung belok ke kanan dan tancap gas. Sementara kami yang sudah terlanjur belok kiri, menjadi panic! Munif lalu memutar sepeda motor ke arah kanan. Karena panic dan jalan aspal di desa ini tidak terlalu lebar, ban depan motor mengenai tanah berlumpur di bahu jalan (kemungkinan semalam hujan, jadi becek).
Ban motor kami yang terjebak lumpur membuat kami jatuh dari atas motor. Munif tertindih motor. Aku berusaha bangkit dengan kondisi sepatu ku penuh lumpur. Saya lihat dari arah utara si raja kecil bersama kedua pengawalnya berlari menghampiri kami dengan celurit diacungkan ke atas. Saat itu saya berteriak dengan bahasa Madura yang dalam bahasa Indonesia nya “Pak….pak…pak. Tunggu (maksudnya jgn asal marah)”.
Panik bercampur ketakutan. Saat itu saya hanya ingat MATI. Jika si raja kecil meminta kamera kami beserta kasetnya, akan saya berikan!!! Seperti judul tulisan ini: TIDAK ADA BERITA SEHARGA NYAWA! Sempat saya lihat si Abdul berhenti sekitar 500 meter dari posisi kami. Dia diam saja di atas motornya melihat kami. Sempat dalam hati saya mengumpatnya karena lari duluan padahal dia sebelumnya bilang, “saya yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa”.
Dalam kondisi genting seperti inilah, dari arah barat (dari arah sekolah) muncul ketiga pengawal kami yang tadi kami tinggal di sekolah. Mungkin mereka bertiga melihat dan mendengar saat kami terjatuh. Saat si raja kecil dan kedua pengawalnya tinggal beberapa meter lagi ‘menghantam’ saya dan Munif, ketiga pengawal kami langsung berdiri menghadang rombongan si raja kecil.
Dengan lantang salah satu pengawal kami bilang “Ajiyah tang oreng. Marah la tattak mon Bengal (Mereka ini orang-orang saya. Silahkan tebas kalau berani)”. Ketiga pengawal kami bahkan serentak mencabut pisau panjang dari balik baju mereka. Mendengar teriakan tersebut, rombongan si raja kecil menghentikan langkahnya. Bahkan mereka menurunkan celurit mereka yang sebelumnya teracung ke atas.
Melihat situasi ini, tensi kepanikan saya dan Munif menurun. Lebih tenang. Munif yang terjepit motor pun lalu saya bantu berdiri.
Sementara ketiga pengawal kami dengan si raja kecil dan kedua pengawalnya terlibat cekcok mulut. Beberapa warga setempat saya lihat hanya berdiri mematung menyaksikan momen ini. Tengkar mulut kedua pihak berusaha diredam seorang perempuan (kata si Abdul, perempuan tersebut adalah istri si Raja Kecil.
Lalu salah satu pengawal kami bilang, “sudah mas. Sampeyan pulang aja. Ini urusan kami”. Lega hati saya. Lalu dengan munif, saya naik motor pelan ke arah selatan menghampiri si Abdul dan terus melaju ke arah selatan menuju kota Bangkalan. Kami melewati jalan akses Suramadu (saat itu jalan akses Suramadu belum selesai. Masih berupa makadam dan sebagian masih berdebu. Motor yang kami tumpangi melaju kencang. Si Abdul tertinggal di belakang kami.
Di jalanan ini lah saya sempat suruh Munif menghentikan motor. Munif Tanya kenapa? Saya jawab dengan senyum kecut “Sialan. Dengkul/ betis ku gemetaran gak mau berhenti”. Munif tertawa setengah ngakak. Saya memang orang Madura asli. Sejak kecil hingga cari nafkah hidup di Madura (kecuali waktu kuliah). Namun dikejar celurit terhunus, ini baru pertama kali! Mungkin inilah kenapa seharusnya jurnalis yang bertugas di daerah seharusnya memang asli daerah tersebut. Selain lebih mengenal medan dan karakter masyarakatnya, juga agar selalu siap mental ketika menghadapi kondisi seperti ini.
Setelah kami sampai di kota Bangkalan, kami langsung menuju pos 9 (istilah warung yang menjaidi tempat nongkrong para wartawan di Bangkalan). Saya dan Munif membersihkan lumpur yang mengotori celana dan sepatu kami. Ibu yang punya warung dan teman2 wartawan lain heran, ada apa? Kami tidak menjawab.
Selesai membersihkan lumpur, kami cerita pada teman2. Seorang teman wartawan bertanya dengan nada bercanda “kamu ambil gambarnya gak waktu insiden itu?”. Haaaargh….sialan! Saya jawab “boro-boro mau ambil gambar, wong kita aja sudah panic kok!”.
Lalu bersama teman2 wartawan lainnya, kami menghadap Kapolres Bangkalan, AKBP Erwin Rusmana. Mendengar cerita kami, Kapolres memberikan dua pilihan: Diselesaikan secara ‘adat’ (kekeluargan) atau diselesaikan secara hukum. Jika yang kedua dipilih, Kapolres berjanji akan langsung menciduk si raja kecil karena tindakannya sudah masuh ranah kriminal.
Namun kami (para wartawan) sepakat menyelesaikannya secara adat. Setelah keluar dari ruangan Kapolres, kami langsung berkoordinasi dengan para raja kecil desa lain dan tokoh – tokoh masyarakat setempat untuk menyelesaikan ini. Biar selesai sampai disini saja maksudnya. Tidak usah diperpanjang.
Setelah dari Polres, saya sempatkan memberitahukan insiden ini ke kantor ku, RCTI Biro Jatim. Kepada mas Iwan Manaf (produser), saya ceritakan semua. Mas Iwan bilang, siap mem-back up kalau ada apa-apa. Mas Iwan juga Tanya “terus beritanya (berita tentang sekolah, bukan berita tentang insiden) kamu tetap kirim atau tidak?”. Aku jawab “Tetap saya kirim mas. Ga apa-apa. Tapi gak usah tulis nama aparat desa nya”.
Dan memang akhirnya semua berakhir dengan baik. Bahkan si raja kecil yang mengejar kami dengan celurit, berkali-kali bertemu dengan ku pada beberapa momen. Pernah di suatu kesempatan aku bertemu dengan nya dan berbicara panjang lebar. Dia minta maaf atas kekeliruannya. Saya pun juga minta maaf karena sudah ‘lancang’ masuk ke wilayah (desa nya) si raja kecil.
Ya, ini hanya sekedar kisah nyata kecil dari kehidupan seorang jurnalis. Kita ketemu pada tulisan ku bagian kedua tentang Catatan Seorang Jurnalis. (Mad Topek)
Minggu, 13 November 2011
Wisata Garam, Paket Wisata Baru Untuk Pelancong di Pulau Madura
Darah Madura – Inovasi dan kreasi menjadi titik untuk terus memacu pertumbuhan masyarakat, termasuk di sector wisata. Hal ini pula yang dilakukan oleh Pemkab Sumenep, kabupaten yang terletak paling ujung timur pulau Madura. Kali ini Sumenep menelorkan gagasan wisata garam bagi para pelancong, utamanya dari luar Sumenep.
Lokasi yang dibidik untuk wisata garam tersebut berada di lahan pegaraman seluas 5 hektar milik PT Garam (persero) Kalianget – Sumenep tepatnya di desa Nambakor. Pemilihan lokasi ini PT Garam sebagai pemilik lahan.
Rencananya, paket wisata garam ini menawarkan kunjungan ke lahan garam untuk mendapat penjelasan langsung proses pembuatan garam yang memang tidak atau jarang diketahui oleh masyarakat umum.Selain itu dilokasi tersebut akan dibangun tempat pemancingan serta wisata kuliner sea food. Belum lagi di lokasi ini juga terdapat sejumlah bangunan kuno yang diantaranya merupakan bangunan atau kantor garam peninggalan Belanda yang juga layak dikunjungi untuk menambah pengetahuan tentang sejarah pegaraman di Madura.
Upaya pengembangan wisata garam ini pun mendapat dukungan penuh dari PT Garam. Menurut Farid Zahid, Humas PT Garam, pihak menyambut baik niatan Pemkab Sumenep tersebut demi kemajuan wisata daerah ke depannya. PT Garam pun masih menunggu konsep dan bentuk kerjasama paket wisata garam ini antara pihak PT Garam dengan Pemkab Sumenep.
Sementara Bupati Sumenep, Busyro Karim menuturkan, pihaknya saat ini tengah mempersiapkan memorandum of understanding (MOU) alias nota kesepahaman antara kedua pihak. Rencananya, status lahan tersebut nantinya adalah sewa pakai atau pinjam pakai.
Paket wisata garam ini diharapkan bakal meningkatkan kunjungan wisata ke daerah Sumenep nantinya, baik wisatawan local maupun mancanegara. Apalagi dengan adanya jembatan Suramadu yang terletak di kabupaten Bangkalan, arus kunjungan wisata dari luar Madura pastinya akan lebih banyak dating berkunjung ke setiap lokasi wisata di Madura. (Mad Topek)
Lokasi yang dibidik untuk wisata garam tersebut berada di lahan pegaraman seluas 5 hektar milik PT Garam (persero) Kalianget – Sumenep tepatnya di desa Nambakor. Pemilihan lokasi ini PT Garam sebagai pemilik lahan.
Rencananya, paket wisata garam ini menawarkan kunjungan ke lahan garam untuk mendapat penjelasan langsung proses pembuatan garam yang memang tidak atau jarang diketahui oleh masyarakat umum.Selain itu dilokasi tersebut akan dibangun tempat pemancingan serta wisata kuliner sea food. Belum lagi di lokasi ini juga terdapat sejumlah bangunan kuno yang diantaranya merupakan bangunan atau kantor garam peninggalan Belanda yang juga layak dikunjungi untuk menambah pengetahuan tentang sejarah pegaraman di Madura.
Upaya pengembangan wisata garam ini pun mendapat dukungan penuh dari PT Garam. Menurut Farid Zahid, Humas PT Garam, pihak menyambut baik niatan Pemkab Sumenep tersebut demi kemajuan wisata daerah ke depannya. PT Garam pun masih menunggu konsep dan bentuk kerjasama paket wisata garam ini antara pihak PT Garam dengan Pemkab Sumenep.
Sementara Bupati Sumenep, Busyro Karim menuturkan, pihaknya saat ini tengah mempersiapkan memorandum of understanding (MOU) alias nota kesepahaman antara kedua pihak. Rencananya, status lahan tersebut nantinya adalah sewa pakai atau pinjam pakai.
Paket wisata garam ini diharapkan bakal meningkatkan kunjungan wisata ke daerah Sumenep nantinya, baik wisatawan local maupun mancanegara. Apalagi dengan adanya jembatan Suramadu yang terletak di kabupaten Bangkalan, arus kunjungan wisata dari luar Madura pastinya akan lebih banyak dating berkunjung ke setiap lokasi wisata di Madura. (Mad Topek)
Wisata Madura Yang Paling Kesohor, Kerapan Sapi Atau BullRace
Selasa, 08 November 2011
12 Siswa Madura Raih Perunggu Dalam Kompetisi Matematika Internasional. Well Done Job, Cong!
Darah Madura - Bangga bener rasanya jadi orang Madura. Yap, begitu mendengar kabar bahwa para siswa Madura kembali berprestasi di tingkat Internasional, hati ku sumringah! Ini untuk kesekian kalinya para siswa Madura mengukir prestasi akademik. Bukan sekedar tingkat regional propinsi Jawa Timur atau hanya level nasional, tapi lebih dari itu, tingkat dunia!
Sebagaimana dilansir oleh OKEZONE.COM, sebanyak 12 siswa asal Madura, Jawa Timur memperoleh medali perunggu dalam event World Mathematics Team Championship (WMTC) 2011 yang digelar 2-6 November di Beijing, China.
Kedubelas siswa tersebut, yakni Misbahul Anwar dan Khairul Umam (MA Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan), Ahmad Hudah, Ahmad Zainuddin, Ega Bandawa Winata (MTs Unggulan Bustanul Ulum, Waru Pamekasan), Zaky Firmawan el Hakim dan Ahmad Syauqi (MTSN Sumber Bungur, Pamekasan), Wildi Fachrizal (SMP 5 Pamekasan), Khansa al Faizy (SMP 1 Pamekasan), Muhammad Taufiq Hakiki dan Rafika Nurmasari (RSBI SMAN 1 Sumenep) dan Prima Sultan Hudiyanto (SDBI Lawangan Daya, Pamekasan).
Mereka bersaing dengan ratusan peserta asal China, Amerika Serikat, Korea Selatan, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Untuk medali emas didominasi peserta asal China, sementara medali perak didominasi Amerika Serikat dan Filipina.
Dari Indonesia terdapat dua tim, yakni Surya Institut pimpinan Yohanes Surya dan Erik Institut pimpinan Ah Faisal. Dua belas siswa asal Madura tersebut diberangkatkan oleh Erik Institut dan ikut level yunior dan senior. Selain mendapat penghargaan kategori individu, tim dari Erik Institut mendapat Merit Award Team.
Kontingen asal Madura sudah tiba di Indonesia pada Senin (7/11/2011) malam. Mereka disambut Forum Keluarga Madura Perantauan (FKMP) dan pihak madrasah di Bandara Soekarno Hatta.
Selanjutnya, mereka diterima Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Selasa (8/11/2011) siang.
Rencananya, hari ini kontingen asal Madura akan diterima Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur di Surabaya. Selanjutnya, kontingen akan diterima Bupati Pamekasan Kholilurrohman dan Bupati Sumenep Abuya Busro Karim.
Ah Faisal (29), pembimbing dari Erik Institut mengatakan, prestasi tingkat internasional itu dapat diraih berkat upaya keras dari peserta.
Menurut dia, sebelum berangkat ke Beijing pihaknya menggembleng para peserta beberapa bulan. “Siang malam kami belajar. Latihannya memang berat karena jam tidur anak-anak berkurang, tapi mereka mau berusaha keras dan hasilnya cukup memuaskan,” ujar pria yang akrab disapa Erik ini.
Dia mengungkapkan, prestasi yang diukir tahun ini cukup istimewa karena peserta mayoritas berasal dari madrasah. Dengan demikian, lanjut dia, sudah ada pemerataan kualitas pendidikan bagi siswa sekolah umum dengan madrasah. “Saya berharap prestasi ini tetap bertahan,” ujar Erik.
Sementara itu, Kepala MA Darul Ulum Dr. Zainuddin Syarif, M.Ag sangat bersyukur anak didiknya bisa berprestasi di tingkat internasional. Hal ini membuktikan kalau produk pesantren dan madrasah bisa bersaing. “Ini membuktikan kalau siswa madrasah dan santri bisa bersaing dalam bidang sains bukan hanya bidang agama,” ujar Zainuddin.
Dosen STAIN Pamekasan ini berharap Kementerian Agama terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan madrasah. Untuk itulah, dia berharap sarana dan prasarana untuk peningkatan mutu pendidikan pesantren dan madrasah terus ditingkatkan. “Tentunya kami berusaha untuk mempertahankan prestasi ini. Dan yang terpenting adalah support dari pemerintah, terutama pemenuhan sarana untuk peningkatan mutu pendidikan madrasah dan pesantren,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua FKMP M Suli Handoko mengatakan, prestasi yang diraih 12 siswa tersebut menunjukkan adanya peningkatan kualitas pendidikan di Madura. Prestasi ini juga sekaligus mengangkat citra orang Madura. “Stigma kalau pendidikan di Madura terbelakang hilang dengan sendirinya. Justru kami melihat ada keunggulan, karena justru siswa asal madrasah yang berprestasi,” ujar Suli.
Pria yang berdomisili di Jakarta Utara ini pun meminta pemerintah terus meningkatkan kualitas pendidikan di Madura, khususnya pesantren dan madrasah. Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Muhammad Ali sangat mengapresiasi prestasi tersebut. Pihaknya bertekad untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia.
Seperti yang saya bilang diawal, ini prestasi yang kesekian kalinya yang berhasil diraih Kacong - Cebbing (Putra-Putri, Madura red) di ajang bergengsi dunia. Sebelumnya, sudah berkali-kali siswa-siswi Madura meraih prestasi serupa, baik ditingkat nasional maupun Internasional. Bahkan beberapa diantaranya menyabet medali emas di level dunia (Selengkapnya baca disini, kawan: Juara Olimpiade Sains Nasional Itu Berasal Dari Gubuk Sederhana di Madura!). Ini artinya, bakat kecerdasan sangat tidak kalah dengan siswa-siswi dari daerah lain.
Madura selama ini diidentikkan sebagai kawasan kering, miskin atau tertinggal. Pokoknya negatif tok! Dan prestasi dunia Kacong-Cebbing diatas menepis semua anggapan apriori tentang Madura tersebut. Sekali lagi, selamat ya.... Teruslah berprestasi. Harumkan nama Madura dan Indonesia di kancah dunia! (Mad Topek)
Sebagaimana dilansir oleh OKEZONE.COM, sebanyak 12 siswa asal Madura, Jawa Timur memperoleh medali perunggu dalam event World Mathematics Team Championship (WMTC) 2011 yang digelar 2-6 November di Beijing, China.
Kedubelas siswa tersebut, yakni Misbahul Anwar dan Khairul Umam (MA Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan), Ahmad Hudah, Ahmad Zainuddin, Ega Bandawa Winata (MTs Unggulan Bustanul Ulum, Waru Pamekasan), Zaky Firmawan el Hakim dan Ahmad Syauqi (MTSN Sumber Bungur, Pamekasan), Wildi Fachrizal (SMP 5 Pamekasan), Khansa al Faizy (SMP 1 Pamekasan), Muhammad Taufiq Hakiki dan Rafika Nurmasari (RSBI SMAN 1 Sumenep) dan Prima Sultan Hudiyanto (SDBI Lawangan Daya, Pamekasan).
Mereka bersaing dengan ratusan peserta asal China, Amerika Serikat, Korea Selatan, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Untuk medali emas didominasi peserta asal China, sementara medali perak didominasi Amerika Serikat dan Filipina.
Para Peserta Kompetisi Matematika Internasional Sedang Berpose Bersama
Dari Indonesia terdapat dua tim, yakni Surya Institut pimpinan Yohanes Surya dan Erik Institut pimpinan Ah Faisal. Dua belas siswa asal Madura tersebut diberangkatkan oleh Erik Institut dan ikut level yunior dan senior. Selain mendapat penghargaan kategori individu, tim dari Erik Institut mendapat Merit Award Team.
Kontingen asal Madura sudah tiba di Indonesia pada Senin (7/11/2011) malam. Mereka disambut Forum Keluarga Madura Perantauan (FKMP) dan pihak madrasah di Bandara Soekarno Hatta.
Selanjutnya, mereka diterima Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Selasa (8/11/2011) siang.
Rencananya, hari ini kontingen asal Madura akan diterima Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur di Surabaya. Selanjutnya, kontingen akan diterima Bupati Pamekasan Kholilurrohman dan Bupati Sumenep Abuya Busro Karim.
Ah Faisal (29), pembimbing dari Erik Institut mengatakan, prestasi tingkat internasional itu dapat diraih berkat upaya keras dari peserta.
Menurut dia, sebelum berangkat ke Beijing pihaknya menggembleng para peserta beberapa bulan. “Siang malam kami belajar. Latihannya memang berat karena jam tidur anak-anak berkurang, tapi mereka mau berusaha keras dan hasilnya cukup memuaskan,” ujar pria yang akrab disapa Erik ini.
Pulau Kebanggaan Kami, Madura!
Dia mengungkapkan, prestasi yang diukir tahun ini cukup istimewa karena peserta mayoritas berasal dari madrasah. Dengan demikian, lanjut dia, sudah ada pemerataan kualitas pendidikan bagi siswa sekolah umum dengan madrasah. “Saya berharap prestasi ini tetap bertahan,” ujar Erik.
Sementara itu, Kepala MA Darul Ulum Dr. Zainuddin Syarif, M.Ag sangat bersyukur anak didiknya bisa berprestasi di tingkat internasional. Hal ini membuktikan kalau produk pesantren dan madrasah bisa bersaing. “Ini membuktikan kalau siswa madrasah dan santri bisa bersaing dalam bidang sains bukan hanya bidang agama,” ujar Zainuddin.
Dosen STAIN Pamekasan ini berharap Kementerian Agama terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan madrasah. Untuk itulah, dia berharap sarana dan prasarana untuk peningkatan mutu pendidikan pesantren dan madrasah terus ditingkatkan. “Tentunya kami berusaha untuk mempertahankan prestasi ini. Dan yang terpenting adalah support dari pemerintah, terutama pemenuhan sarana untuk peningkatan mutu pendidikan madrasah dan pesantren,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua FKMP M Suli Handoko mengatakan, prestasi yang diraih 12 siswa tersebut menunjukkan adanya peningkatan kualitas pendidikan di Madura. Prestasi ini juga sekaligus mengangkat citra orang Madura. “Stigma kalau pendidikan di Madura terbelakang hilang dengan sendirinya. Justru kami melihat ada keunggulan, karena justru siswa asal madrasah yang berprestasi,” ujar Suli.
Pria yang berdomisili di Jakarta Utara ini pun meminta pemerintah terus meningkatkan kualitas pendidikan di Madura, khususnya pesantren dan madrasah. Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Muhammad Ali sangat mengapresiasi prestasi tersebut. Pihaknya bertekad untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia.
Seperti yang saya bilang diawal, ini prestasi yang kesekian kalinya yang berhasil diraih Kacong - Cebbing (Putra-Putri, Madura red) di ajang bergengsi dunia. Sebelumnya, sudah berkali-kali siswa-siswi Madura meraih prestasi serupa, baik ditingkat nasional maupun Internasional. Bahkan beberapa diantaranya menyabet medali emas di level dunia (Selengkapnya baca disini, kawan: Juara Olimpiade Sains Nasional Itu Berasal Dari Gubuk Sederhana di Madura!). Ini artinya, bakat kecerdasan sangat tidak kalah dengan siswa-siswi dari daerah lain.
Madura selama ini diidentikkan sebagai kawasan kering, miskin atau tertinggal. Pokoknya negatif tok! Dan prestasi dunia Kacong-Cebbing diatas menepis semua anggapan apriori tentang Madura tersebut. Sekali lagi, selamat ya.... Teruslah berprestasi. Harumkan nama Madura dan Indonesia di kancah dunia! (Mad Topek)
Minggu, 23 Oktober 2011
Kontes Kacong-Jebbing Bangkalan, Perlukah? Rasanya Tidak!
Darah Madura – Usai sudah pemilihan Kacong Jebbing (sejenis Raka Raki kalau tingkat Prop jatim) Kabupaten Bangkalan – Madura. Grand Final pemilihan tersebut tuntas digelar semalam, sabtu (22/10/2011) disertai tampilnya Anang-Ashanty sebagai guest star alias bintang tamu di GOR Bangkalan.
Ribuan warga Bangkalan memadati gedung yg terletak di jalan Halim Perdanakusuma tersebut. Didalam gedung penuh sesak. Belum lagi di halaman GOR juga dipenuhi warga yang nonton di depan dua layar lebar. Ini yang aneh, biasanya gak seramai ini. Selidik punya selidik, warga yang hadir karena adanya duet Anang-Ashanty. Begitu keduanya selesai manggung, banyak pula warga yang beringsut pulang. Meski sebagian masih menonton pemilihan.
Ratusan Juta Untuk Bayar Duet Anang-Ashanty?
Seorang teman ku berkata, duet penyanyi ini kabarnya dibayar 120 juta loh. Ntah bener bisa juga tidak. Bisa diatas harga itu bisa juga dibawahnya. Soalnya aku juga tak terlalu tahu harga pentas Anang-Ashanty. Namun yang pasti, jika benar 120 juta…… alamak, duit ratusan juta itu hanya untuk bayar dua orang yang nyanyi beberapa lagu. Menghibur mungkin ya, tapi cuma hiburan dan kesenangan sesaat. Selepas itu, dilupakanlah!
Duit sebanyak itu rasanya lebih bermanfaat untuk membantu masyarakat Bangkalan yang hidup digaris kemiskinan. Aku masih ingat, beberapa bulan yang lalu pernah liputan tentang seorang perempuan miskin yang sakit parah yang tak mampu berobat. Dia hanya tergeletak tak berdaya di kamar kontrakan nya. Begitu pula liputan tentang seorang ibu dari keluarga tidak berada secara ekonomi yang melahirkan dua anak kembar. Ini baru segelintir contoh warga Bangkalan yang miskin dan butuh uluran tangan pemkab Bangkalan.
Jika uang pentas Anang-Ashanty disumbangkan kepada mereka (50 persen nya saja alias 60 juta), setiap dari mereka diberi 30 juta, kedua keluarga miskin tersebut akan menangis terharu sebagai ungkapan terima kasih! Mereka akan merasa terbantu sekali. Mereka akan selalu ingat siapa yang membantu. Bahkan saya yakin mereka akan langsung berdoa,” ya Allah, berilah balasan yang berlimpah buat mereka yang membantu saya”. Nah, saya tanya: Lebih bermanfaat mana, memberi uang pada Anang-Ashanty atau kepada mereka yang miskin yang jauuuuuuh lebih membutuhkan????!!!
ini baru menghitung uang yang dikeluarkan untuk Anang-Ashanty. Bagaimana dengan uang biaya lain perhelatan pemilihan Kacong-Jebbing ini? Kiranya akan ada banyak uang yang mesti disebutkan. Dengan biaya yang mencapai ratusan juta rupiah, adakah manfaat yang bisa diperoleh masyarakat Bangkalan? Rasanya tidak!
Pemilihan Kacong-Jebbing, Hanya Kontes Adu Cantik dan Ganteng. Tidak Lebih!
Sebagaimana pemilihan sejenis, kontes Kacong-Jebbing ini mengusung slogan 3 B yakni Brain, Beauty and Behaviour alias otak atau pinter, cantik atau outer beauty dan bertingkah laku yang baik atau inner beauty. Seorang peserta Jebbing semalam pun berusaha mengulangi menyebutkan 3 B tersebut. Ironisnya dia tidak hafal. Ntahlah……………
Lewat layar lebar di luar bersama sejumlah teman jurnalis, ku lihat para kontestan di panggung. Lenggak-lenggok cara mereka berjalan, ah betul betul bikin gemes kayak putra-putri keraton aja! Sebagian dari mereka memang enak dilhat atau good looking kata orang sono. Tapi bukan itu yang ku tunggu. Terus apa? Tiap jawaban kontestan saat mendapat pertanyaan itu yang ku tunggu.
Wuiiih…..ada yang jawab pake bahasa Inggris-lah meski belepotan yang penting begaya lah! Hehehe Ada pula yg pake bhs Indonesia hingga pake bhs Madura halus (yang ini hrs di-apresiasi). Sayang isi jawabannya banyak yang mengecewakan saya!
Saat ditanya tentang budaya maupun tempat wisata Bangkalan, kesan MEMBUAL dan MENGADA-NGADA terlihat sekali. Coba dengerin aja, banyak dari mereka yang bilang, “datanglah ke Bangkalan dan kunjungi tempat wisatanya pasti mantap” atau “wisata Bangkalan akan membuat anda rindu kembali berkunjung” hingga seorang peserta dengan bhs Inggrisnya bilang, “Pantai Sambilangan fantastis, Pantai Rongkang menarik dan Pantai Maneron yang Indah”.
Membual? Tentu saja! Mengada-ngada? Jelas! Kesannya cari muka pada juri dan pejabat Bangkalan yang ada di depan mereka. Faktanya? Ini harus diakui, nyaris tidak ada tempat wisata di Bangkalan yang layak jual! Kita hanya punya wisata religi dan sejarah yang layak dan selalu ramai yaitu Pasarean Syaichona Kholil (Mertajesah) dan Aer Mata rato Ebuh (Arosbaya). Ada lagi, Kerapan sapi yang dikemas Bangkalan Bullracing Events yang biasanya digelar tiap minggu terakhir setiap bulannya.. Lain dari ini? Gak ada lagi, mas bro!
Miris memang. Sebagai pintu gerbang masuk Pulau Madura (apalagi sejak adanya Jembatan Suramadu), Bangkalan belum punya lokasi wisata yang layak jual selain dua tempat yang saya sebutkan diatas. Seharusnya, segala piranti wisata itu sudah siap sejak sebelum Jembatan Suramadu diresmikan. Jadi begitu selesai diresmikan, segala macam lokasi wisata di Bangkalan sudah siap menyambut para wisatawan. Nyatanya? Ah.....lagi-lagi nada kecewa!
Terus pantai yang mereka sebutkan? Hayo saya tanya, fantastiskah pantai Sambilangan? Pantai Maneron dan Rongkang? Tidak! Karena memang begitu adanya. Pantai pantai tersebut memang punya potensi sebagai tourism resort. Tapi sayang, karena tidak tergarap dengan baik, potensi itu sia-sia! Untuk kemudian dijual kepada public, rasanya belum saatnya. Jadi rasanya tidak pantas dipuja-puji seperti itu. Saya jadi bertanya, para kontestan itu memuji tempat wisata di Bangkalan yang katanya indah, apa karena cari muka atau mereka memang belum sampai kesana sehingga asal keluar saja kata2 pujian itu.
Belum lagi seorang peserta ada yang menyebutkan kalau pantai Siring Kemuning layak dikunjungi. Ah, apa dia tidak tahu kalau pantai itu sudah rusak parah tidak terurus. Dulu mungkin iya! Tapi sekarang? Aduh, monggo lihat sendiri. Saat diatas panggung saja mereka sudah membual, layakkah mereka jadi wakil atau duta wisata Bangkalan? Hmmmm……silahkan anda nilai sendiri!
Yang saya khawatirkan, jika kata-kata bualan bernada pujian (alias congocoh, bhs Madura) didengar orang luar Madura, terus mereka berkunjung ke lokasi-lokasi wisata itu, yang mereka lihat tidak sesuai dengan yang mereka dengar. Mereka pasti kecewa! Siapa yang malu? Bangkalan sendiri! Bukan para peserta yang membual itu!
Ini baru satu kasus saja. Aku mau cerita hal lain ttg kacong-jebbing. Seorang teman istri ku ada yang terpilih sebagai runner up jebbing (gak usah disebutin nama dan tahun berapa dia ikut, yang pasti tahun-tahun kemarin). Runner up, tentu sebuah posisi yang sudah bergengsi krn Cuma satu tingkat dibawah sang juara. Terus apa masalahnya?
Setiap kali dia ngobrol dg kami, tampaknya si cewek runner up jebbing ini gak fasih berbahasa Madura. Bahkan sepertinya enggan berbahasa Madura. Kata teman ku yang lain, dia seperti tidak bangga dengan bahasa Madura nya. Memalukan!
Satu lagi, kecerdasan dan pintarnya seseorang itu kata orang bisa terlihat dari cara dia berbicara. Nah, kalau dilihat dari segi ini rasanya dia gak masuk kriteria pintar. Sering gak nyambung! Masak dia terpilih jadi runner up hanya karena faktor wajah doang? Ah mengecewakan! Layakkah dia jadi Jebbing Bangkalan sebagai duta wisata? Rasanya tidak!
Ratusan juta dihamburkan. Mulai dari tahap pendaftaran, seleksi hingga malam grand final. Hasilnya? Memilih putra-putri Bangkalan yang dianggap layak menjadi duta wisata……. Ingat, mereka yang terpilih itu seharusnya sadar, dipundak mereka ada ratusan juta yang dipertaruhkan. Kalau mereka tidak bermanfaat bagi masyarakat, kalau mereka tidak kapabel jadi duta wisata Bangkalan, kalau mereka tidak bangga dengan identitas Madura nya, MASIH BERMANFAAT-KAH dan PERLUKAH pemilihan Kacong Jebbing? Kalau kondisinya seperti ini, rasanya Tidak!
Mator sakalangkong…..mogeh-mogeh tadhek se agigir dhe’ tolesan panekah. Toreh patabukkak atenah. Panekah kritik membangun. Demi masyarakat Bengkalan se lebbi sae! (Mad Topek)
Foto-foto kacong-jebbing panekah kaule download dheri: http://kacong-jebbing.blogspot.com
Ribuan warga Bangkalan memadati gedung yg terletak di jalan Halim Perdanakusuma tersebut. Didalam gedung penuh sesak. Belum lagi di halaman GOR juga dipenuhi warga yang nonton di depan dua layar lebar. Ini yang aneh, biasanya gak seramai ini. Selidik punya selidik, warga yang hadir karena adanya duet Anang-Ashanty. Begitu keduanya selesai manggung, banyak pula warga yang beringsut pulang. Meski sebagian masih menonton pemilihan.
Ratusan Juta Untuk Bayar Duet Anang-Ashanty?
Seorang teman ku berkata, duet penyanyi ini kabarnya dibayar 120 juta loh. Ntah bener bisa juga tidak. Bisa diatas harga itu bisa juga dibawahnya. Soalnya aku juga tak terlalu tahu harga pentas Anang-Ashanty. Namun yang pasti, jika benar 120 juta…… alamak, duit ratusan juta itu hanya untuk bayar dua orang yang nyanyi beberapa lagu. Menghibur mungkin ya, tapi cuma hiburan dan kesenangan sesaat. Selepas itu, dilupakanlah!
Duit sebanyak itu rasanya lebih bermanfaat untuk membantu masyarakat Bangkalan yang hidup digaris kemiskinan. Aku masih ingat, beberapa bulan yang lalu pernah liputan tentang seorang perempuan miskin yang sakit parah yang tak mampu berobat. Dia hanya tergeletak tak berdaya di kamar kontrakan nya. Begitu pula liputan tentang seorang ibu dari keluarga tidak berada secara ekonomi yang melahirkan dua anak kembar. Ini baru segelintir contoh warga Bangkalan yang miskin dan butuh uluran tangan pemkab Bangkalan.
Jika uang pentas Anang-Ashanty disumbangkan kepada mereka (50 persen nya saja alias 60 juta), setiap dari mereka diberi 30 juta, kedua keluarga miskin tersebut akan menangis terharu sebagai ungkapan terima kasih! Mereka akan merasa terbantu sekali. Mereka akan selalu ingat siapa yang membantu. Bahkan saya yakin mereka akan langsung berdoa,” ya Allah, berilah balasan yang berlimpah buat mereka yang membantu saya”. Nah, saya tanya: Lebih bermanfaat mana, memberi uang pada Anang-Ashanty atau kepada mereka yang miskin yang jauuuuuuh lebih membutuhkan????!!!
ini baru menghitung uang yang dikeluarkan untuk Anang-Ashanty. Bagaimana dengan uang biaya lain perhelatan pemilihan Kacong-Jebbing ini? Kiranya akan ada banyak uang yang mesti disebutkan. Dengan biaya yang mencapai ratusan juta rupiah, adakah manfaat yang bisa diperoleh masyarakat Bangkalan? Rasanya tidak!
Pemilihan Kacong-Jebbing, Hanya Kontes Adu Cantik dan Ganteng. Tidak Lebih!
Sebagaimana pemilihan sejenis, kontes Kacong-Jebbing ini mengusung slogan 3 B yakni Brain, Beauty and Behaviour alias otak atau pinter, cantik atau outer beauty dan bertingkah laku yang baik atau inner beauty. Seorang peserta Jebbing semalam pun berusaha mengulangi menyebutkan 3 B tersebut. Ironisnya dia tidak hafal. Ntahlah……………
Lewat layar lebar di luar bersama sejumlah teman jurnalis, ku lihat para kontestan di panggung. Lenggak-lenggok cara mereka berjalan, ah betul betul bikin gemes kayak putra-putri keraton aja! Sebagian dari mereka memang enak dilhat atau good looking kata orang sono. Tapi bukan itu yang ku tunggu. Terus apa? Tiap jawaban kontestan saat mendapat pertanyaan itu yang ku tunggu.
Wuiiih…..ada yang jawab pake bahasa Inggris-lah meski belepotan yang penting begaya lah! Hehehe Ada pula yg pake bhs Indonesia hingga pake bhs Madura halus (yang ini hrs di-apresiasi). Sayang isi jawabannya banyak yang mengecewakan saya!
Saat ditanya tentang budaya maupun tempat wisata Bangkalan, kesan MEMBUAL dan MENGADA-NGADA terlihat sekali. Coba dengerin aja, banyak dari mereka yang bilang, “datanglah ke Bangkalan dan kunjungi tempat wisatanya pasti mantap” atau “wisata Bangkalan akan membuat anda rindu kembali berkunjung” hingga seorang peserta dengan bhs Inggrisnya bilang, “Pantai Sambilangan fantastis, Pantai Rongkang menarik dan Pantai Maneron yang Indah”.
Membual? Tentu saja! Mengada-ngada? Jelas! Kesannya cari muka pada juri dan pejabat Bangkalan yang ada di depan mereka. Faktanya? Ini harus diakui, nyaris tidak ada tempat wisata di Bangkalan yang layak jual! Kita hanya punya wisata religi dan sejarah yang layak dan selalu ramai yaitu Pasarean Syaichona Kholil (Mertajesah) dan Aer Mata rato Ebuh (Arosbaya). Ada lagi, Kerapan sapi yang dikemas Bangkalan Bullracing Events yang biasanya digelar tiap minggu terakhir setiap bulannya.. Lain dari ini? Gak ada lagi, mas bro!
Miris memang. Sebagai pintu gerbang masuk Pulau Madura (apalagi sejak adanya Jembatan Suramadu), Bangkalan belum punya lokasi wisata yang layak jual selain dua tempat yang saya sebutkan diatas. Seharusnya, segala piranti wisata itu sudah siap sejak sebelum Jembatan Suramadu diresmikan. Jadi begitu selesai diresmikan, segala macam lokasi wisata di Bangkalan sudah siap menyambut para wisatawan. Nyatanya? Ah.....lagi-lagi nada kecewa!
Terus pantai yang mereka sebutkan? Hayo saya tanya, fantastiskah pantai Sambilangan? Pantai Maneron dan Rongkang? Tidak! Karena memang begitu adanya. Pantai pantai tersebut memang punya potensi sebagai tourism resort. Tapi sayang, karena tidak tergarap dengan baik, potensi itu sia-sia! Untuk kemudian dijual kepada public, rasanya belum saatnya. Jadi rasanya tidak pantas dipuja-puji seperti itu. Saya jadi bertanya, para kontestan itu memuji tempat wisata di Bangkalan yang katanya indah, apa karena cari muka atau mereka memang belum sampai kesana sehingga asal keluar saja kata2 pujian itu.
Belum lagi seorang peserta ada yang menyebutkan kalau pantai Siring Kemuning layak dikunjungi. Ah, apa dia tidak tahu kalau pantai itu sudah rusak parah tidak terurus. Dulu mungkin iya! Tapi sekarang? Aduh, monggo lihat sendiri. Saat diatas panggung saja mereka sudah membual, layakkah mereka jadi wakil atau duta wisata Bangkalan? Hmmmm……silahkan anda nilai sendiri!
Yang saya khawatirkan, jika kata-kata bualan bernada pujian (alias congocoh, bhs Madura) didengar orang luar Madura, terus mereka berkunjung ke lokasi-lokasi wisata itu, yang mereka lihat tidak sesuai dengan yang mereka dengar. Mereka pasti kecewa! Siapa yang malu? Bangkalan sendiri! Bukan para peserta yang membual itu!
Ini baru satu kasus saja. Aku mau cerita hal lain ttg kacong-jebbing. Seorang teman istri ku ada yang terpilih sebagai runner up jebbing (gak usah disebutin nama dan tahun berapa dia ikut, yang pasti tahun-tahun kemarin). Runner up, tentu sebuah posisi yang sudah bergengsi krn Cuma satu tingkat dibawah sang juara. Terus apa masalahnya?
Setiap kali dia ngobrol dg kami, tampaknya si cewek runner up jebbing ini gak fasih berbahasa Madura. Bahkan sepertinya enggan berbahasa Madura. Kata teman ku yang lain, dia seperti tidak bangga dengan bahasa Madura nya. Memalukan!
Satu lagi, kecerdasan dan pintarnya seseorang itu kata orang bisa terlihat dari cara dia berbicara. Nah, kalau dilihat dari segi ini rasanya dia gak masuk kriteria pintar. Sering gak nyambung! Masak dia terpilih jadi runner up hanya karena faktor wajah doang? Ah mengecewakan! Layakkah dia jadi Jebbing Bangkalan sebagai duta wisata? Rasanya tidak!
Ratusan juta dihamburkan. Mulai dari tahap pendaftaran, seleksi hingga malam grand final. Hasilnya? Memilih putra-putri Bangkalan yang dianggap layak menjadi duta wisata……. Ingat, mereka yang terpilih itu seharusnya sadar, dipundak mereka ada ratusan juta yang dipertaruhkan. Kalau mereka tidak bermanfaat bagi masyarakat, kalau mereka tidak kapabel jadi duta wisata Bangkalan, kalau mereka tidak bangga dengan identitas Madura nya, MASIH BERMANFAAT-KAH dan PERLUKAH pemilihan Kacong Jebbing? Kalau kondisinya seperti ini, rasanya Tidak!
Mator sakalangkong…..mogeh-mogeh tadhek se agigir dhe’ tolesan panekah. Toreh patabukkak atenah. Panekah kritik membangun. Demi masyarakat Bengkalan se lebbi sae! (Mad Topek)
Foto-foto kacong-jebbing panekah kaule download dheri: http://kacong-jebbing.blogspot.com
Jumat, 07 Oktober 2011
Jadwal Kerapan Sapi di Madura Tahun 2011
Darah Madura - Nah, kalau yang ini jadwal kerapan sapi untuk tahun 2011. Sebagaimana tradisi biasanya, pagelaran kerapan sapi memang biasa digelar pasca panen tembakau di pulau Madura. Semoga banyak yang datang ya.....
Kami sajikan jadwal ini merupakan upaya sosialisasi kami sebagai putra Madura yang ingin tradisi leluhur kami ini tetap langgeng dan bisa disaksikan orang banyak, utamanya yang dari luar Madura.
JADWAL KERAPAN SAPI TRADISIONAL se Madura Tahun 2011
(Penyisihan Tingkat Kawedanan)
Kabupaten BANGKALAN
11 September 2011 Galis Minggu 09.00 WIB Ds. Banyubunih
17 September 2011 Arosbaya Sabtu 09.00 WIB Ds. Muara
21 September 2011 Sepulu Rabu 09.00 WIB Ds. Sepulu
25 September 2011 Tanah Merah Minggu 09.00 WIB Ds. Petrah
27 September 2011 Socah Selasa 09.00 WIB Ds. Sangra Agung
09 Oktober 2011 Tingkat Kabupaten Minggu 09.00 WIB Ds. Bancaran
SAMPANG
11 September 2011 Pangarengan Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarengan
13 September 2011 Kedungdung Selasa 09.00 WIB Ds. Muktasareh
18 September 2011 Ketapang Minggu 09.00 WIB Ds. Ketapang Barat
25 September 2011 Sampang (Pangarengan) Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarengan
09 Oktober 2011 Tingkat Kabupaten Minggu 09.00 WIB Kecamatan Ketapang
PAMEKASAN
11 September 2011 Waru Minggu 09.00 WIB Ds. Waru Barat
15 September 2011 Pegantenan Kamis 09.00 WIB Ds. Tebul
18 September 2011 Galis Minggu 09.00 WIB Ds. Bulay
25 September 2011 Pamekasan Minggu 09.00 WIB Ds. Lawangan Daya
09 Oktober 2011 Tingkat Kabupaten Minggu 09.00 WIB Stadion R. Soenarto
SUMENEP
11 September 2011 Bluto Minggu 09.00 WIB Ds. Bungbungan
13 September 2011 Batu Putih Senin 09.00 WIB Ds. Batu Putih Lao'
15 September 2011 Guluk-Guluk Selasa 09.00 WIB Ds. Guluk - guluk
18 September 2011 Pasongsongan Rabu 09.00 WIB Ds. Pasongsongan
20 September 2011 Nonggunong Kamis 09.00 WIB Ds. Gayam
25 September 2011 Kota Sumenep Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarangan
09 Oktober 2011 Tingkat Kabupaten Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarangan
Penyisihan TINGKAT KABUPATEN
09 Oktober 2011
Kab. Bangkalan Minggu 09.00 WIB Ds. Bancaran Kab. Sampang Minggu 09.00 WIB Kec. Ketapang
Kab. Pamekasan Minggu 09.00 WIB Stadion R. Soenarto
Kab. Sumenep Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarangan
Ferstival Sapi Sono' SE MADURA
22 Oktober 2011 Festival Sapi Sono' Sabtu 09.00 WIB Lapangan Depan Kantor Bakorwil Pamekasan
KERAPAN SAPI se-Madura
23 Oktober 2011 Minggu 09.00 WIB Stadion R. Soenarto Hadiwidjojo Pamekasan
Konfirmasi: Sumenep : (0328) 667148
Pamekasan : (0324) 321497
Sampang : (0323) 321059
Bangkalan : (031) 3097065
CATATAN: Perubahan jadwal bisa terjadi utamanya yang tingkat kecamatan/ kawedanan
Terima Kasih alias Mator Sakalangkong, gan! Selamat menonton! (Mad Topek)
Kami sajikan jadwal ini merupakan upaya sosialisasi kami sebagai putra Madura yang ingin tradisi leluhur kami ini tetap langgeng dan bisa disaksikan orang banyak, utamanya yang dari luar Madura.
JADWAL KERAPAN SAPI TRADISIONAL se Madura Tahun 2011
(Penyisihan Tingkat Kawedanan)
Kabupaten BANGKALAN
11 September 2011 Galis Minggu 09.00 WIB Ds. Banyubunih
17 September 2011 Arosbaya Sabtu 09.00 WIB Ds. Muara
21 September 2011 Sepulu Rabu 09.00 WIB Ds. Sepulu
25 September 2011 Tanah Merah Minggu 09.00 WIB Ds. Petrah
27 September 2011 Socah Selasa 09.00 WIB Ds. Sangra Agung
09 Oktober 2011 Tingkat Kabupaten Minggu 09.00 WIB Ds. Bancaran
SAMPANG
11 September 2011 Pangarengan Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarengan
13 September 2011 Kedungdung Selasa 09.00 WIB Ds. Muktasareh
18 September 2011 Ketapang Minggu 09.00 WIB Ds. Ketapang Barat
25 September 2011 Sampang (Pangarengan) Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarengan
09 Oktober 2011 Tingkat Kabupaten Minggu 09.00 WIB Kecamatan Ketapang
PAMEKASAN
11 September 2011 Waru Minggu 09.00 WIB Ds. Waru Barat
15 September 2011 Pegantenan Kamis 09.00 WIB Ds. Tebul
18 September 2011 Galis Minggu 09.00 WIB Ds. Bulay
25 September 2011 Pamekasan Minggu 09.00 WIB Ds. Lawangan Daya
09 Oktober 2011 Tingkat Kabupaten Minggu 09.00 WIB Stadion R. Soenarto
SUMENEP
11 September 2011 Bluto Minggu 09.00 WIB Ds. Bungbungan
13 September 2011 Batu Putih Senin 09.00 WIB Ds. Batu Putih Lao'
15 September 2011 Guluk-Guluk Selasa 09.00 WIB Ds. Guluk - guluk
18 September 2011 Pasongsongan Rabu 09.00 WIB Ds. Pasongsongan
20 September 2011 Nonggunong Kamis 09.00 WIB Ds. Gayam
25 September 2011 Kota Sumenep Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarangan
09 Oktober 2011 Tingkat Kabupaten Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarangan
Penyisihan TINGKAT KABUPATEN
09 Oktober 2011
Kab. Bangkalan Minggu 09.00 WIB Ds. Bancaran Kab. Sampang Minggu 09.00 WIB Kec. Ketapang
Kab. Pamekasan Minggu 09.00 WIB Stadion R. Soenarto
Kab. Sumenep Minggu 09.00 WIB Ds. Pangarangan
Ferstival Sapi Sono' SE MADURA
22 Oktober 2011 Festival Sapi Sono' Sabtu 09.00 WIB Lapangan Depan Kantor Bakorwil Pamekasan
KERAPAN SAPI se-Madura
23 Oktober 2011 Minggu 09.00 WIB Stadion R. Soenarto Hadiwidjojo Pamekasan
Konfirmasi: Sumenep : (0328) 667148
Pamekasan : (0324) 321497
Sampang : (0323) 321059
Bangkalan : (031) 3097065
CATATAN: Perubahan jadwal bisa terjadi utamanya yang tingkat kecamatan/ kawedanan
Terima Kasih alias Mator Sakalangkong, gan! Selamat menonton! (Mad Topek)
Rabu, 28 September 2011
Juara Olimpiade Sains Nasional Itu Berasal Dari Gubuk Sederhana di Madura!
Darah Madura – Kembali pulau Madura menunjukkan sebagai tempat siswa berprestasi dan sangat membanggakan. Jika sebelumnya ada siswa Alyssa Diva Mustika, siswa SMP Negeri 1 Pamekasan, ada siswi asal SMPN 1 Sampang yang berprestasi nasional. Namanya Siti Fatimah, nama yang sangat sederhana namun bermakna mulia. Tahu kan klo Siti Fatimah itu nama salah satu putri Rosulullah Muhammad SAW.
Yap, kalau Siti Fatimah asal Sampang ini meraih kemuliaan nya lewat kecemerlangan otak yang dimilikinya. Dia juara Olimpiade Sains Nasional bidang astronomi. Mantap kan gan!!! Sebelumnya Fatimah sudah mengukir prestasi lumayan, dapat medali perak dalam ajang Olimpiade Astronomi Asia – Pacific! Bukan lumayan tapi hebat kali ya!
Fatimah bukan anak orang kaya. Bahkan ia sudah menjadi anak yatim sejak ditinggal ayahnya meninggal dunia.
Namun kemiskinan dan segala keterbatasan hidup tidak membuat Fatimah patah arang. Fatimah mungkin sadar, ia anak cerdas dan bisa berprestasi jika terus belajar. Nah, dari keyakinan ini muncul semangat tinggi. Mental kayak gini yang perlu ditiru! Hal ini didukung oleh sang ibu. Meski sang ibu hanya penjual ikan keliling, beliau mampu membimbing dan mendidik sang anak untuk menjadi anak yang berguna kelak.
Cermin keterbatasan ekonomi keluarga Fatimah terlihat dari rumah tempat ia dan ibunya tinggal. Sebuah rumah gubuk berlantai tanah itu terletak di dusun Dualas, Desa Pangongsean, Sampang – Madura. Rumah sederhana tersebut dikelilingi gedhek (tabing, Madura red.) di tengah tegalan.
Pasti dah gak akan ada yang menyangka, jika rumah kayak begituan dihuni seorang siswi juara nasional bidang astronomi di Manado, Sulawesi Utara, pertengahan bulan September 2011 kemarin.
Nih lagi bukti kegigihan Fatimah. Setiap hari saat hendak berangkat sekolah, Fatimah harus berjalan kaki 1km ke rumah pamannya karena tidak bisa dilalui sepeda motor. Terus sang paman mengantarnya ke jalan raya untuk selanjutnya naik angkutan ke sekolah sejauh 8 km. Bolak balik tiap hari sejauh itu demi menuntut ilmu. Semangat terus ya Fatimah!
Mau tahu keinginan siswa kelas III SMAN 1 Sampang ini selepas lulus nanti? Fatimah pengen kuliah di Institut Tekhnologi Bandung (ITB). Kuliah disana tentu biaya yang tidak sedikit. Semoga ada dermawan yang bersedia mendermakan hartanya untuk keperluan studi Fatimah. At least, semoga dia dapat beasiswa untuk itu. Yap semoga keinginan ini tercapai ya! Amien Ya Rabb!
Siti Fatimah, satu diantara siswa Madura lainnya yang berprestasi. Sebelum Fatimah, ada Alyssa Diva Mustika, siswa SMP Negeri 1 Pamekasan yang berhasil meraih medali emas dalam ajang International Mathematic Contest yang diselenggarakan di Rumania antara 22 sampai 29 Maret 2011 kemarin.
Ada pula Andi Oktavian Latief, siswa SMA Negeri 1 Pamekasan yang berhasil meraih emas Olimpiade Fisika Internasional tahun 2006 lalu di Singapura.
Prestasi serupa juga diraih Mohammad Shohibul Maromi juga dari SMA Negeri 1 Pamekasan yang juga meraih medali emas dalam International Physic Olympiad (IPhO) atau Olimpiade Fisika tingkat dunia ke-41 yang diselenggarakan di Zegreb – Kroasia, 17-25 Juli 2010.
Sebelum berangkat ke Kroasia, Shohibul Maromi dan rekannya Ali Ihsanul Qauli yang juga dari SMAN 1 Pamekasan berhasil meraih medali emas dan perunggu di Asian Physic Olympiad (APhO) di Bangkok Thailand. Prestasi ini diulang kembali pada APhO di Taiwan awal Mei 2010, dua orang siswa SMAN 1 Pamekasan itu kembali meraih medali perak dan honorable mention pada APhO di Taiwan tersebut.
Ada pula Mohammad Salim Ghazali. Santri ini menjadi pemenang pertama lomba hafal quran 20 juz tingkat Asia Pasific. Mantap! Maju terus pelajar Madura! Maju terus Indonesia ku! (Mad Topek)
Yap, kalau Siti Fatimah asal Sampang ini meraih kemuliaan nya lewat kecemerlangan otak yang dimilikinya. Dia juara Olimpiade Sains Nasional bidang astronomi. Mantap kan gan!!! Sebelumnya Fatimah sudah mengukir prestasi lumayan, dapat medali perak dalam ajang Olimpiade Astronomi Asia – Pacific! Bukan lumayan tapi hebat kali ya!
Fatimah bukan anak orang kaya. Bahkan ia sudah menjadi anak yatim sejak ditinggal ayahnya meninggal dunia.
Namun kemiskinan dan segala keterbatasan hidup tidak membuat Fatimah patah arang. Fatimah mungkin sadar, ia anak cerdas dan bisa berprestasi jika terus belajar. Nah, dari keyakinan ini muncul semangat tinggi. Mental kayak gini yang perlu ditiru! Hal ini didukung oleh sang ibu. Meski sang ibu hanya penjual ikan keliling, beliau mampu membimbing dan mendidik sang anak untuk menjadi anak yang berguna kelak.
Cermin keterbatasan ekonomi keluarga Fatimah terlihat dari rumah tempat ia dan ibunya tinggal. Sebuah rumah gubuk berlantai tanah itu terletak di dusun Dualas, Desa Pangongsean, Sampang – Madura. Rumah sederhana tersebut dikelilingi gedhek (tabing, Madura red.) di tengah tegalan.
Pasti dah gak akan ada yang menyangka, jika rumah kayak begituan dihuni seorang siswi juara nasional bidang astronomi di Manado, Sulawesi Utara, pertengahan bulan September 2011 kemarin.
Nih lagi bukti kegigihan Fatimah. Setiap hari saat hendak berangkat sekolah, Fatimah harus berjalan kaki 1km ke rumah pamannya karena tidak bisa dilalui sepeda motor. Terus sang paman mengantarnya ke jalan raya untuk selanjutnya naik angkutan ke sekolah sejauh 8 km. Bolak balik tiap hari sejauh itu demi menuntut ilmu. Semangat terus ya Fatimah!
Mau tahu keinginan siswa kelas III SMAN 1 Sampang ini selepas lulus nanti? Fatimah pengen kuliah di Institut Tekhnologi Bandung (ITB). Kuliah disana tentu biaya yang tidak sedikit. Semoga ada dermawan yang bersedia mendermakan hartanya untuk keperluan studi Fatimah. At least, semoga dia dapat beasiswa untuk itu. Yap semoga keinginan ini tercapai ya! Amien Ya Rabb!
Siti Fatimah, satu diantara siswa Madura lainnya yang berprestasi. Sebelum Fatimah, ada Alyssa Diva Mustika, siswa SMP Negeri 1 Pamekasan yang berhasil meraih medali emas dalam ajang International Mathematic Contest yang diselenggarakan di Rumania antara 22 sampai 29 Maret 2011 kemarin.
Ada pula Andi Oktavian Latief, siswa SMA Negeri 1 Pamekasan yang berhasil meraih emas Olimpiade Fisika Internasional tahun 2006 lalu di Singapura.
Prestasi serupa juga diraih Mohammad Shohibul Maromi juga dari SMA Negeri 1 Pamekasan yang juga meraih medali emas dalam International Physic Olympiad (IPhO) atau Olimpiade Fisika tingkat dunia ke-41 yang diselenggarakan di Zegreb – Kroasia, 17-25 Juli 2010.
Sebelum berangkat ke Kroasia, Shohibul Maromi dan rekannya Ali Ihsanul Qauli yang juga dari SMAN 1 Pamekasan berhasil meraih medali emas dan perunggu di Asian Physic Olympiad (APhO) di Bangkok Thailand. Prestasi ini diulang kembali pada APhO di Taiwan awal Mei 2010, dua orang siswa SMAN 1 Pamekasan itu kembali meraih medali perak dan honorable mention pada APhO di Taiwan tersebut.
Ada pula Mohammad Salim Ghazali. Santri ini menjadi pemenang pertama lomba hafal quran 20 juz tingkat Asia Pasific. Mantap! Maju terus pelajar Madura! Maju terus Indonesia ku! (Mad Topek)
Minggu, 25 September 2011
Daun Emas dan Butiran Kristal dari Madura
Darah Madura - Bagi sebagian pihak musim kemarau berkepanjangan seperti saat ini mendatangkan masalah karena sulitnya air bersih. Namun tidak demikian bagi para petani garam dan tembakau di Madura. Mereka justru diuntungkan karena selain jumlah produksi melimpah juga meningkat kualitas produksi.
Berkah tersebut disyukuri oleh para petani garam di Kabupaten Sampang yang menjadi salah satu sentra produksi garam rakyat di Madura selain Kabupaten Pamekasan dan Sumenep. Akibat cuaca panas yang tidak disertai hujan sedikitpun selama memasuki musim kemarau tahun ini, proses produksi garam berjalan maksimal karena tidak terganggu curah hujan sama sekali.
Hal ini meningkatkan jumlah produksi garam bahkan para petani garam pun mengaku bahwa kwalitas garam mereka sangat bagus karena makin mengkristal dan putih.
Tak hanya petani garam, para petani tembakau Madura pun turut merasakan berkah kemarau panjang. Fandi, salahs seorang petani tembakau di Sampang menuturkan, cuaca yang panas merupakan cuaca yang bagus bagi tanaman tembakau mereka. Selain hasil produksi yang meningkat, kualitas daun tembakau turut berkualitas tinggi serta menambah cita rasa dan aroma hasil rajangan daun tembakau.
“Benar mas, berkat cuaca panas selama musim kemarau, kualitas produksi kami memang naik. Alhamdulillah tidak hujan sama sekali tahun ini”, ujar Fandi sambil tersenyum senang saat ditemui di lokasi perajangan daun tembakaunya.
Hal ini tentunya turut mengharumkan pula isi kantong para petani karena harga tembakau yang juga ikut melambung tinggi, yakni berkisar antara 30 hingga 40 ribu per kilonya. Harga tembakau yang juga disebut daun emas di Madura ini merupakan harga tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
“Untuk harga juga naik jauh lebih tinggi dari pada tahun-tahun sebelumnya, yakni antara 30 hingga 40 ribu per satu kilo nya”, tambah Fandi.
Selain berpengaruh positif pada proses tanam, cuaca panas kemarau tahun 2011 ini juga berpengaruh yang sama pada proses pengeringan daun tembakau setelah dirajang sebelumnya oleh para petani. Mereka pun berharap tingginya harga tembakau saat ini bisa meningkatkan taraf hidup para petani, sebagaimana sebutan daun tembakau sebagai daun emas dari Madura. (Mad Topek)
Berkah tersebut disyukuri oleh para petani garam di Kabupaten Sampang yang menjadi salah satu sentra produksi garam rakyat di Madura selain Kabupaten Pamekasan dan Sumenep. Akibat cuaca panas yang tidak disertai hujan sedikitpun selama memasuki musim kemarau tahun ini, proses produksi garam berjalan maksimal karena tidak terganggu curah hujan sama sekali.
Hal ini meningkatkan jumlah produksi garam bahkan para petani garam pun mengaku bahwa kwalitas garam mereka sangat bagus karena makin mengkristal dan putih.
Tak hanya petani garam, para petani tembakau Madura pun turut merasakan berkah kemarau panjang. Fandi, salahs seorang petani tembakau di Sampang menuturkan, cuaca yang panas merupakan cuaca yang bagus bagi tanaman tembakau mereka. Selain hasil produksi yang meningkat, kualitas daun tembakau turut berkualitas tinggi serta menambah cita rasa dan aroma hasil rajangan daun tembakau.
“Benar mas, berkat cuaca panas selama musim kemarau, kualitas produksi kami memang naik. Alhamdulillah tidak hujan sama sekali tahun ini”, ujar Fandi sambil tersenyum senang saat ditemui di lokasi perajangan daun tembakaunya.
Hal ini tentunya turut mengharumkan pula isi kantong para petani karena harga tembakau yang juga ikut melambung tinggi, yakni berkisar antara 30 hingga 40 ribu per kilonya. Harga tembakau yang juga disebut daun emas di Madura ini merupakan harga tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
“Untuk harga juga naik jauh lebih tinggi dari pada tahun-tahun sebelumnya, yakni antara 30 hingga 40 ribu per satu kilo nya”, tambah Fandi.
Selain berpengaruh positif pada proses tanam, cuaca panas kemarau tahun 2011 ini juga berpengaruh yang sama pada proses pengeringan daun tembakau setelah dirajang sebelumnya oleh para petani. Mereka pun berharap tingginya harga tembakau saat ini bisa meningkatkan taraf hidup para petani, sebagaimana sebutan daun tembakau sebagai daun emas dari Madura. (Mad Topek)
Selasa, 30 Agustus 2011
Musik Ul-Daul Semarak Sambut Lebaran Di Madura
Darah Madura - Hari raya iedul fitri sudah tiba. Untuk menyemarakkan hari kemenangan tersebut, warga di Kabupaten Sampang – Madura menggelar konvoi musik Ul-Daul, yakni perpaduan musik tradisional dan musik islami dengan keliling kota.
Boleh dibilang inilah pesta masyarakat muslim di Madura saat pagelaran musik Ul-Daul. Mereka berpawai menyusuri jalan serta berkeliling kota menyambut hari raya iedul fitri esok hari (31/08/2011). Berbagai alat musik tradisional seperti rebana, beduk, seruling hingga terompet dibunyikan dengan pandu dan rancak.
Bukan hanya takbir dan lagu – lagu islami yang diperdengarkan. Musik Ul-Daul ini juga mengiringi sejumlah lagu tradisional madura yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT serta lagu-lagu kemenangan umat islam dalam menyambut hari raya iedul fitri.
Para peserta berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari kelompok karang taruna, remaja masjid hingga siswa sekolah. Selain berjalan kaki, beberapa kelompok peserta pun memakai kendaraan hias sebagai atribut aksi mereka.
Tentu saja hiburan gratis dan menarik ini menyedot perhatian ribuan warga untuk menonton. Warga pun memadati berbagai ruas jalan protocol.
Tradisi pawai musik Ul-Daul ini bukan hanya biasa dilakukan warga sampang. Musik Ul-Daul ini juga sangat populer di kalangan masyarakat di tiga kabupaten lainnya di Madura yakni di Pamekasan, Sumenep hingga Bangkalan. (Mad Topek)
Boleh dibilang inilah pesta masyarakat muslim di Madura saat pagelaran musik Ul-Daul. Mereka berpawai menyusuri jalan serta berkeliling kota menyambut hari raya iedul fitri esok hari (31/08/2011). Berbagai alat musik tradisional seperti rebana, beduk, seruling hingga terompet dibunyikan dengan pandu dan rancak.
Bukan hanya takbir dan lagu – lagu islami yang diperdengarkan. Musik Ul-Daul ini juga mengiringi sejumlah lagu tradisional madura yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT serta lagu-lagu kemenangan umat islam dalam menyambut hari raya iedul fitri.
Para peserta berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari kelompok karang taruna, remaja masjid hingga siswa sekolah. Selain berjalan kaki, beberapa kelompok peserta pun memakai kendaraan hias sebagai atribut aksi mereka.
Tentu saja hiburan gratis dan menarik ini menyedot perhatian ribuan warga untuk menonton. Warga pun memadati berbagai ruas jalan protocol.
Tradisi pawai musik Ul-Daul ini bukan hanya biasa dilakukan warga sampang. Musik Ul-Daul ini juga sangat populer di kalangan masyarakat di tiga kabupaten lainnya di Madura yakni di Pamekasan, Sumenep hingga Bangkalan. (Mad Topek)
Minggu, 26 Juni 2011
Revitalisasi Jaringan Kereta Api di Madura Segera Terealisasi
Darah Madura - Rencana revitalisasi jaringan kereta api di Pulau Madura dari Bangkalan ke Sumenep segera terealisasi. Ini setelah anggota Panitia Khusus (Pansus) Raperda Rencana Tata RuangWilayah (RTRW) sepakat untuk menghidupkan kembali jalur kereta api tersebut. Bahkan dalam matriks indikasi program revitalisasi, jaringan kereta api masuk dalam Pelaksanaan Jangka Menengah.
(LIHAT - BACA juga: Coretan ku: Madura Bakal Kembali Punya Kereta Api? DAN Foto-Foto Sejarah Kereta Api di Madura)
Sekretaris Pansus RTRW , Irwan Setiawan menegaskan pengembangan jaringan kereta api baik ke Bangkalan maupun dari Bangkalan ke Sumenep akan masuk dalam satu jaringan transportasi massal kereta api yang terintegrasi dengan jaringan perkeretaapian di Surabaya. Karena itu, rencananya akan dibangun Stasiun Bangkalan, Stasiun Sampang, Stasiun Pamekasan dan Stasiun Sumenep.
''Semua rencana revitalisasi tersebut telah masuk dalam matriks indikasi program utama dan menjadi prioritas untuk segera direalisasi. Semangat menghidupkan kembali rel kereta api di Pulau Madura diantaranya menunjang akses jembatan Suramadu yang sudah ada. Selain menghidupkan kembali perekonomian di Pulau Madura,''tegas politisi asal PKS tersebut.
Selain revitalisasi jaringan Kereta Api di Pulau Madura, diungkapkan pria yang juga Anggota Komisi D DPRD Jatim ini, dewan juga merencanakan konservasi jalur perkeretapian yang telah mati dengan rute Sidoarjo - Tulangan - Tarik, Bojonegoro - Jatirogo, Madiun - Ponorogo - Slahung, Mojokerto - Mojosari - Porong, Ploso - Mojokerto - Krian, Malang - Turen - Dampit, Malang - Pakis - Tumpang, Babat - Jombang , Babat - Tuban, Kamal - Bangkalan - Sampang - Pamekasan, Jati - Probolinggo - Paiton , Klakah - Lumajang - Pasirian, Lumajang - Gumukmas - Balung - Rambipuji, Panarukan - Situbondo - Bondowoso - Kalisat, dan Rogojampi - Benculuk.
Ditambahkannya, dalam pemasalahan transportasi, pemerintah provinsi juga merencanakan akan melakukan pembangunan dan pengembangan secara bertahap angkutan massal berupa kereta api komuter sebagai sistem ulang alik dan bagian dari kawasan perkotaan Gerbangkertosusila dan Malang dalam satu jaringan transportasi massal yang terintegrasi.
sumber: bhirawaonline
(LIHAT - BACA juga: Coretan ku: Madura Bakal Kembali Punya Kereta Api? DAN Foto-Foto Sejarah Kereta Api di Madura)
Sekretaris Pansus RTRW , Irwan Setiawan menegaskan pengembangan jaringan kereta api baik ke Bangkalan maupun dari Bangkalan ke Sumenep akan masuk dalam satu jaringan transportasi massal kereta api yang terintegrasi dengan jaringan perkeretaapian di Surabaya. Karena itu, rencananya akan dibangun Stasiun Bangkalan, Stasiun Sampang, Stasiun Pamekasan dan Stasiun Sumenep.
''Semua rencana revitalisasi tersebut telah masuk dalam matriks indikasi program utama dan menjadi prioritas untuk segera direalisasi. Semangat menghidupkan kembali rel kereta api di Pulau Madura diantaranya menunjang akses jembatan Suramadu yang sudah ada. Selain menghidupkan kembali perekonomian di Pulau Madura,''tegas politisi asal PKS tersebut.
Selain revitalisasi jaringan Kereta Api di Pulau Madura, diungkapkan pria yang juga Anggota Komisi D DPRD Jatim ini, dewan juga merencanakan konservasi jalur perkeretapian yang telah mati dengan rute Sidoarjo - Tulangan - Tarik, Bojonegoro - Jatirogo, Madiun - Ponorogo - Slahung, Mojokerto - Mojosari - Porong, Ploso - Mojokerto - Krian, Malang - Turen - Dampit, Malang - Pakis - Tumpang, Babat - Jombang , Babat - Tuban, Kamal - Bangkalan - Sampang - Pamekasan, Jati - Probolinggo - Paiton , Klakah - Lumajang - Pasirian, Lumajang - Gumukmas - Balung - Rambipuji, Panarukan - Situbondo - Bondowoso - Kalisat, dan Rogojampi - Benculuk.
Ditambahkannya, dalam pemasalahan transportasi, pemerintah provinsi juga merencanakan akan melakukan pembangunan dan pengembangan secara bertahap angkutan massal berupa kereta api komuter sebagai sistem ulang alik dan bagian dari kawasan perkotaan Gerbangkertosusila dan Malang dalam satu jaringan transportasi massal yang terintegrasi.
sumber: bhirawaonline
Minggu, 19 Juni 2011
Madura Kembali Punya Kereta Api? Nih Sejarah Kereta Api di Madura Beserta Album Foto KA Madura Tempo Doeloe!
Darah Madura - Postingan artikel ini sebagai kelanjutan dari postingan sebelumnya tentang sinyal akan kembali diluncurkannya jalur kereta api (API) di Madura yang sudah resmi ditutup sejak tahun 1987. Berikut sejarah KA di Madura yang mulai dibangun sejak era kolonial Belanda di akhir tahun 1800-an.
(Baca ini juga Gan: Madura Bakal Kembali Punya Kereta Api? dan juga Revitalisasi Jaringan Kereta Api di Madura Segera Terealisasi)
Jalur KA antara Kalianget (Kab Sumenep - Madura Timur) sampai dengan Kamal (Kab Bangkalan - Madura Barat) pertama kali dibuka Pemerintah Hindia Belanda bagian demi bagian antara tahun 1898 s/d 1901. Periodesasi pembukaan jalur KA di Madura adalah Kamal-Bangkalan (1898), Bangkalan-Tunjung (1899), Tunjung-Kwanyar (1900), Tanjung-Kapedi (1900), Kapedi-Tambangan (1900), Tambangan-Kalianget (1899), Kwanyar-Blega (1901), Tanjung-Sampang (1901), dan Sampang-Blega (1901).
Pembukaan masing-masing jalur KA, mengacu kepada nama-nama stasiun pemberhentian (spoorstation) dan sebagian besar sejajar dengan jalan raya di bagian selatan Pulau Madura. Dalam buku Madura Dalam Empat Jaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam, (Huub de Jong, 1987: 13) dipaparkan, pada zaman Hindia Belanda, jalur KA dikelola Madura Stoomtram Maatschappij.
Awalnya moda transportasi KA memang hanya digunakan sebagai sarana angkutan garam sebagai komiditi utama Madura antara Kalianget dan Kamal maupun sebaliknya.
Kereta kemudian tak hanya melayani garam. Penduduk lokal menjadikan sebagai wahana transportasi paling cepat dan murah. Perjalanan KA dari titik awal sampai akhir, di zaman itu berlangsung hampir sehari penuh. Perjalanan dengan KA ini disambung dengan kapal-kapal tambang (feri) yang berlayar antara Pelabuhan Kamal (Bangkalan) dan Pelabuhan Ujung/ Perak (Surabaya - Jawa) maupun antara Pelabuhan Kalianget (Sumenep) dengan Pelabuhan Panarukan (Situbondo).
Sejarah kelam transportasi KA Madura terjadi pada masa kolonial Jepang. Jalur KA Kalianget - Pamekasan dibongkar tentara Dai Nippon dengan mengerahkan tenaga-tenaga Romusha. Besi rel bekas jalur KA yang dibangun Belanda tersebut dijarah oleh Jepang untuk selanjutnya dijadikan mesin-mesin perang Jepang selama Perang Pasifik (Perang Dunia II).
Praktis setelah masa kemerdekaan, tranportasi KA di Madura hanya menyisakan jalur Pamekasan sampai Kamal. Jalur itu cukup disesaki penumpang meski tidak sepadat di Jawa. Turun dari kapal penyeberangan di Dermaga Kamal, KA siap mengangkut masyarakat ke berbagai tempat di Madura. Sebaliknya, KA yang mengangkut penumpang dari berbagai Madura akan berhenti di stasiun Kamal untuk selanjutnya diteruskan dengan kapal menuju Surabaya.
Pada masa itu jalur trasportasi KA menjadi favorit atau pilihan utama masyarakat Madura karena angkutan darat seperti bus, mobil pribadi, minibus, apalagi sepeda motor, belum sebanyak sekarang. Namun seiring kemajuan jaman, moda trasportasi ini mulai ditinggal oleh masyarakat dengan beralih ke sarana angkutan lain. Jalur KA di Madura pun kemudian resmi ditutup pada tahun 1987.
Nah, sejak diresmikannya Jembatan Suramadu pada 10 Juni 2009, PT KAI sepertinya mulai tergerak kembali menghidupkan jalur KA di Madura. Apalagi melihat fakta pertumbuhan penduduk Madura yang kian besar serta makin padatnya jalur trasportasi darat memang membuka peluang pembukaan bagi angkutan darat lainnya, yakni kereta api. Bisa terwujudkah KA kembali menyusuri daratan Pulau Madura? Kita tunggu saja.
BACA ARTIKEL sebelumnya tentang Madura Bakal Kembali Punya Kereta Api? KLIK DISINI
Data sejarah KA di Madura diambil dari: http://www.inka.web.id
Foto sejarah KA di Madura diambil dari Madoera Stoomtram Maatschappij
(Baca ini juga Gan: Madura Bakal Kembali Punya Kereta Api? dan juga Revitalisasi Jaringan Kereta Api di Madura Segera Terealisasi)
Jalur KA antara Kalianget (Kab Sumenep - Madura Timur) sampai dengan Kamal (Kab Bangkalan - Madura Barat) pertama kali dibuka Pemerintah Hindia Belanda bagian demi bagian antara tahun 1898 s/d 1901. Periodesasi pembukaan jalur KA di Madura adalah Kamal-Bangkalan (1898), Bangkalan-Tunjung (1899), Tunjung-Kwanyar (1900), Tanjung-Kapedi (1900), Kapedi-Tambangan (1900), Tambangan-Kalianget (1899), Kwanyar-Blega (1901), Tanjung-Sampang (1901), dan Sampang-Blega (1901).
Foto Stasiun KA Pamekasan Jaman Belanda
Pembukaan masing-masing jalur KA, mengacu kepada nama-nama stasiun pemberhentian (spoorstation) dan sebagian besar sejajar dengan jalan raya di bagian selatan Pulau Madura. Dalam buku Madura Dalam Empat Jaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam, (Huub de Jong, 1987: 13) dipaparkan, pada zaman Hindia Belanda, jalur KA dikelola Madura Stoomtram Maatschappij.
Awalnya moda transportasi KA memang hanya digunakan sebagai sarana angkutan garam sebagai komiditi utama Madura antara Kalianget dan Kamal maupun sebaliknya.
Kereta kemudian tak hanya melayani garam. Penduduk lokal menjadikan sebagai wahana transportasi paling cepat dan murah. Perjalanan KA dari titik awal sampai akhir, di zaman itu berlangsung hampir sehari penuh. Perjalanan dengan KA ini disambung dengan kapal-kapal tambang (feri) yang berlayar antara Pelabuhan Kamal (Bangkalan) dan Pelabuhan Ujung/ Perak (Surabaya - Jawa) maupun antara Pelabuhan Kalianget (Sumenep) dengan Pelabuhan Panarukan (Situbondo).
Foto Jembatan KA antara Sampang-Pamekasan yang Baru Dibangun Belanda
Sejarah kelam transportasi KA Madura terjadi pada masa kolonial Jepang. Jalur KA Kalianget - Pamekasan dibongkar tentara Dai Nippon dengan mengerahkan tenaga-tenaga Romusha. Besi rel bekas jalur KA yang dibangun Belanda tersebut dijarah oleh Jepang untuk selanjutnya dijadikan mesin-mesin perang Jepang selama Perang Pasifik (Perang Dunia II).
Praktis setelah masa kemerdekaan, tranportasi KA di Madura hanya menyisakan jalur Pamekasan sampai Kamal. Jalur itu cukup disesaki penumpang meski tidak sepadat di Jawa. Turun dari kapal penyeberangan di Dermaga Kamal, KA siap mengangkut masyarakat ke berbagai tempat di Madura. Sebaliknya, KA yang mengangkut penumpang dari berbagai Madura akan berhenti di stasiun Kamal untuk selanjutnya diteruskan dengan kapal menuju Surabaya.
Lingkaran Merah Adalag Rangkaian Gerbong KA di Ujung Dermaga Pelabuhan Kalianget Sumenep
Pada masa itu jalur trasportasi KA menjadi favorit atau pilihan utama masyarakat Madura karena angkutan darat seperti bus, mobil pribadi, minibus, apalagi sepeda motor, belum sebanyak sekarang. Namun seiring kemajuan jaman, moda trasportasi ini mulai ditinggal oleh masyarakat dengan beralih ke sarana angkutan lain. Jalur KA di Madura pun kemudian resmi ditutup pada tahun 1987.
Nah, sejak diresmikannya Jembatan Suramadu pada 10 Juni 2009, PT KAI sepertinya mulai tergerak kembali menghidupkan jalur KA di Madura. Apalagi melihat fakta pertumbuhan penduduk Madura yang kian besar serta makin padatnya jalur trasportasi darat memang membuka peluang pembukaan bagi angkutan darat lainnya, yakni kereta api. Bisa terwujudkah KA kembali menyusuri daratan Pulau Madura? Kita tunggu saja.
BACA ARTIKEL sebelumnya tentang Madura Bakal Kembali Punya Kereta Api? KLIK DISINI
Data sejarah KA di Madura diambil dari: http://www.inka.web.id
Foto sejarah KA di Madura diambil dari Madoera Stoomtram Maatschappij
Rel KA Dari Sumenep Menuju Kaliange
Loko C3117 Yang Sedang Lewat di Telang - Bangkalan sekitar 1969
Loko C2602 dan C2602 di Depo KA Kamal - Bangkalan 7 Oktober 1971
aringan Rel KA Madura Jaman Belanda, Kemungkinan ini di Wilayah Antara Torjun-Sampang
Wooo....Reng Blendeh (Orang Belanda) Lagi Mejeng Berlatar Stasiun KA Kamal
Foto Stasiun KA Kamal - Bangkalan Jaman Belanda, Madoera Tram
Suasana Stasiun Kamal di Era Belanda
Suasana Warga yang Hendak Naik KA di Jaman Belanda
Asyik juga ya foto-fotonya. Kita tunggu saja, bisakah Madura kembali punya kereta api?!
Sabtu, 18 Juni 2011
Madura Bakal Kembali Punya Kereta Api?
Darah Madura - Jalur kereta api (KA) di Madura resmi ditutup pada tahun 1987. Saat itu aku masih umur 7 tahun. Tapi terus terang belum pernah merasakan naik KA di Madura. Aku baru tahu rasanya naik KA saat kuliah di Jawa. ini pula yang menjadi bahan ledekan teman2 kuliah ku karena baru pertama kali naik KA! Hehehe
(KLIK DISINI Sejarah Kereta Api di Madura Beserta Album Foto KA Madura Tempo Doeloe!)
Setelah 24 tahun dan semua bekas stasiun KA di Madura nyaris gak ada lagi. Stasiun KA di Pamekasan yang memiliki kompleks stasiun paling besar dibandingkan 3 kabupaten lain di Madura, kini sudah beralih fungsi menjadi taman bermain, pasar rakyat, serta beberapa resto mini bagi wisata kuliner ikan bakar. Jaringan rel KA pun sudah mulai hilang. Baik karena tertutupi tanah, hilang dicuri orang hingga sudah ditempati bangunan warga sekitar. (Yang ini juga monggo dibaca: Revitalisasi Jaringan Kereta Api di Madura Segera Terealisasi)
Eh, di tahun 2011 ini sinyal KA bakal kembali diluncurkan di Madura mulai menguat. PT Kereta Api Indonesia (KAI) Wilayah Madura berniat mengaktifkan jalur KA dari Bangkalan (Madura Barat) hingga Sumenep (Madura Timur) setelah 2 tahun diresmikannya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura - Pulau Jawa tersebut.
Upaya ini diharapkan dapat mereduksi peningkatan volume kendaraan di jalan arteri Madura (terutama jalur tengah) pasca Suramadu. Harus diakui, keberadaan Suramadu memang menyebabkan peningkatan luar biasa volume lalu lintas yang menyusuri jalanan di Madura.
Namun kiranya butuh banyak pertimbangan sebelum ide ini diwujudkan.
Pertama, singkronisasi antara moda angkutan KA dengan angkutan darat lain (MPU dan bus). Harus diingat, penutupan KA di Madura tahun 1987 dikarenakan KA kurang diminati. Saat itu warga lebih memilih angkutan lain yakni bus dan MPU. Bukan hanya masalah antusias warga apakah mau naik KA lagi atau tetap memilih bus/ MPU. Tapi juga harus memikirkan keberadaan ratusan MPU.
Kasus beberapa kali aksi demo dan penghadangan bus AKAS oleh para sopir, kernet dan pemilik MPU adalah bukti. Ketika Suramadu rampung, warga Madura lebih memilih lewat Suramadu tidak lewat Pelabuhan Kamal - Bangkalan lagi. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh para kru bus tersebut untuk mengangkut penumpang warga Madura lewat Suramadu. Otomatis kemudian mengurangi pemasukan bagu kru MPU. Timbullah aksi demo kru MPU. Nah, bagaimana jadinya nasib MPU kalau KA juga terealisasi?
Sekali lagi, jika KA terealisasi, maka akan mengurangi pemasukan bagi warga para pemilik MPU. Bila ini tidak dipikirkan sejak awal, konflik terbuka akan terjadi antara para pemilik MPU dengan PT KAI sendiri. Artinya, keberadaan KA tersebut jangan sampai mematikan moda transportasi lain yang sudah ada.
Tentu hal yang harus dilakukan adalah sosialisasi secara masif bagi masyarakat Madura khusunya warga di sekitar bekas jalur rel KA yang lama tersebut. Terutama memberikan pemahaman akan arti penting moda angkutan KA bagi penunjang pengembangan Madura pasca Suramadu. Jika sosialisasi gagal, maka sepertinya resistensi akan sangat besar dari warga di sekitar bekas jaringan rel KA.
Harus dipahami kultur warga lokal, memberikan pengertian secara tepat itu penting guna memudahkan terealisasinya KA di MAdura lagi.
Ketiga, Pemerintah butuh investasi besar! Membuka kembali jaringan rel KA di Madura sama halnya dengan membuat jaringan KA baru! Butuh dana besar. Jaringan rel lama sudah tidak mungkin dipakai. Stasiun lama sudah tidah ada. Semua perangkat jaringan KA di Madura harus dibangun dari nol. Artinya, dana yang besar harus dipersiapkan. Belum lagi masalah ganti rugi pada persoalan poin kedua diatas.
Nah, sanggupkah PT KAI menyediakan dana investasi sedemikian besar tersebut? Atau perlu menggandeng 4 Pemkab di Madura guna mendanai investasi ini? Hmmm....sepertinya bakal berliku perjalanan untuk mengembalikan KA di Madura lagi. (Mad Topek)
(KLIK DISINI Sejarah Kereta Api di Madura Beserta Album Foto KA Madura Tempo Doeloe!)
Setelah 24 tahun dan semua bekas stasiun KA di Madura nyaris gak ada lagi. Stasiun KA di Pamekasan yang memiliki kompleks stasiun paling besar dibandingkan 3 kabupaten lain di Madura, kini sudah beralih fungsi menjadi taman bermain, pasar rakyat, serta beberapa resto mini bagi wisata kuliner ikan bakar. Jaringan rel KA pun sudah mulai hilang. Baik karena tertutupi tanah, hilang dicuri orang hingga sudah ditempati bangunan warga sekitar. (Yang ini juga monggo dibaca: Revitalisasi Jaringan Kereta Api di Madura Segera Terealisasi)
Eh, di tahun 2011 ini sinyal KA bakal kembali diluncurkan di Madura mulai menguat. PT Kereta Api Indonesia (KAI) Wilayah Madura berniat mengaktifkan jalur KA dari Bangkalan (Madura Barat) hingga Sumenep (Madura Timur) setelah 2 tahun diresmikannya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura - Pulau Jawa tersebut.
Upaya ini diharapkan dapat mereduksi peningkatan volume kendaraan di jalan arteri Madura (terutama jalur tengah) pasca Suramadu. Harus diakui, keberadaan Suramadu memang menyebabkan peningkatan luar biasa volume lalu lintas yang menyusuri jalanan di Madura.
Namun kiranya butuh banyak pertimbangan sebelum ide ini diwujudkan.
Pertama, singkronisasi antara moda angkutan KA dengan angkutan darat lain (MPU dan bus). Harus diingat, penutupan KA di Madura tahun 1987 dikarenakan KA kurang diminati. Saat itu warga lebih memilih angkutan lain yakni bus dan MPU. Bukan hanya masalah antusias warga apakah mau naik KA lagi atau tetap memilih bus/ MPU. Tapi juga harus memikirkan keberadaan ratusan MPU.
Kasus beberapa kali aksi demo dan penghadangan bus AKAS oleh para sopir, kernet dan pemilik MPU adalah bukti. Ketika Suramadu rampung, warga Madura lebih memilih lewat Suramadu tidak lewat Pelabuhan Kamal - Bangkalan lagi. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh para kru bus tersebut untuk mengangkut penumpang warga Madura lewat Suramadu. Otomatis kemudian mengurangi pemasukan bagu kru MPU. Timbullah aksi demo kru MPU. Nah, bagaimana jadinya nasib MPU kalau KA juga terealisasi?
Sekali lagi, jika KA terealisasi, maka akan mengurangi pemasukan bagi warga para pemilik MPU. Bila ini tidak dipikirkan sejak awal, konflik terbuka akan terjadi antara para pemilik MPU dengan PT KAI sendiri. Artinya, keberadaan KA tersebut jangan sampai mematikan moda transportasi lain yang sudah ada.
Bekas Jembatan Rel KA yang Masih Ada di Wilayah Kab Sampang
Bekas Jalur Rel KA di Wilayah Kab Sampang
Kedua, Persoalan jalur/ jaringan rel. Seperti yang saya bilang diatas, jaringan rel KA yang dulu pernah ada dari Bangkalan - Sumenep nyaris sudah banyak yang hilang (hal ini jika PT KAI tetap mau memakai jalur lama). Namun masalah ini bisa diselesaikan karena status jaringan/ jalur bekas rel tersebut adalah tanah milik negara. Artinya, pemerintah cukup memberikan ganti rugi bangunan secara layak.Tentu hal yang harus dilakukan adalah sosialisasi secara masif bagi masyarakat Madura khusunya warga di sekitar bekas jalur rel KA yang lama tersebut. Terutama memberikan pemahaman akan arti penting moda angkutan KA bagi penunjang pengembangan Madura pasca Suramadu. Jika sosialisasi gagal, maka sepertinya resistensi akan sangat besar dari warga di sekitar bekas jaringan rel KA.
Harus dipahami kultur warga lokal, memberikan pengertian secara tepat itu penting guna memudahkan terealisasinya KA di MAdura lagi.
Ketiga, Pemerintah butuh investasi besar! Membuka kembali jaringan rel KA di Madura sama halnya dengan membuat jaringan KA baru! Butuh dana besar. Jaringan rel lama sudah tidak mungkin dipakai. Stasiun lama sudah tidah ada. Semua perangkat jaringan KA di Madura harus dibangun dari nol. Artinya, dana yang besar harus dipersiapkan. Belum lagi masalah ganti rugi pada persoalan poin kedua diatas.
Nah, sanggupkah PT KAI menyediakan dana investasi sedemikian besar tersebut? Atau perlu menggandeng 4 Pemkab di Madura guna mendanai investasi ini? Hmmm....sepertinya bakal berliku perjalanan untuk mengembalikan KA di Madura lagi. (Mad Topek)
Batik Gentongan Madura, Batik Selera Kelas VVIP
Darah Madura - Batik Gentongan asal kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, adalah satunya batik terlama dalam proses pembuatannya dengan memakan waktu hingga 6 bulan bahkan sampai 1 tahun, dan batik tersebut kebanyakan di pakai oleh kelas VVIP setara bupati ke atas karena harganya yang cukup mahal sesuai dengan kwalitas dan proses mengerjaannya.
Dinamakan batik gentongan karena merujuk pada salah satu parkakas penting dalam proses pembuatannya, yakni Gentong atau gerabah. Gentong tersebut digunakan dalam proses pewarnaan dengan bahan-bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti, kulit mengkudu, kulit mundu, kuliat buah jalawe, kayu jambal, kayu jirek dan lain sebagainya, Masing masing warna bahan alamiah itu membawa efek warna tersendiri.
Salah seorang pengrajin batik gentongan dari CV. Pesona Batik Madura, Siti Maimona saat ditemui dibutiknya di jalan RE. Marta Dinata Bangkalan mengatakan, bahwa menurut pakem produksi Batik Gentongan klasik, lamanya perendaman kain dalam proses pewarnaan mencapai 3 hingga 6 bulan, jadi tidak mengherankan jika untuk menghasilkan selembar kain Batik Gentongan klasik diperlukan waktu pengerjaan hingga 1 tahun.
“Selain itu gentong-gentong yang dipergunakan pengrajin tertentu untuk menrendam batik tersebut merupakan warisan turun temurun, ada yang berusia 100 tahun, bahkan ada gentong yang telah berusia 200 tahun,” ungkap Maimona, wanita asal kecamatan Tanjung Bumi Bangkalan.
Maimona menjelaskan, cairi-ciri batik Gentongan selaras dengan cirri umum batik pesisiran, seperti pengemukaan warna-warni, selain itu batik gentongan selintas terlihat basah, padahal bila diraba tekstur kainnya halus dan kering.
“Ada sekitar 50 an motif batik klasik Gentongan yang berkembang di Madura dan dalam setiap lembar kain Batik Gentongan yang sudah jadi, terkandung begitu banyak cerita, tidak saja menyangkut proses teknik dan kesetiaan para pembatik, namun menyangkut sejarah, karakter demografis, adat istiadat dan tradisi,” ungkapnya.
Sementara itu, Edward Hutabarat, perancang busana sekaligus kurator seni budaya ternama, saat berkunjung ke Butik Pesona Batik Madura di Bangkalan mengatakan, bahwa batik gentongan tersebut merupakan satu-satunya batik yang prosesnya terlama di Indonesia bahkan di dunia namun kualitasnya terjamin jempolan, jika terus di cuci maka batik tersebut tambah bagus dan halus.
“Itu kelebihannya dari batik gentongan kalau di cuci tambah lembut dan dilihat kayaknya basah tapi kenyataannya tidak, bener batik kelas elit dari prosesnya saja sudah memakan waktu yang cukup lama,” ungkapnya.
Menurut Edward, untuk mengembangkan batik sebagai warisa budaya leluhur bangsa Indonesia, bahwa aspek bisni dan Making Money harus dikesampingkan, paling utama adalah cinta. “Berikan diri anda waktu untuk mengerti dan memahami lebih dalam khasanah Batik, mari bersama kita resapi jalani dan mencintai batik Indonesia,” ujarnya. (Mad Topek/ Mar)
Dinamakan batik gentongan karena merujuk pada salah satu parkakas penting dalam proses pembuatannya, yakni Gentong atau gerabah. Gentong tersebut digunakan dalam proses pewarnaan dengan bahan-bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti, kulit mengkudu, kulit mundu, kuliat buah jalawe, kayu jambal, kayu jirek dan lain sebagainya, Masing masing warna bahan alamiah itu membawa efek warna tersendiri.
Salah seorang pengrajin batik gentongan dari CV. Pesona Batik Madura, Siti Maimona saat ditemui dibutiknya di jalan RE. Marta Dinata Bangkalan mengatakan, bahwa menurut pakem produksi Batik Gentongan klasik, lamanya perendaman kain dalam proses pewarnaan mencapai 3 hingga 6 bulan, jadi tidak mengherankan jika untuk menghasilkan selembar kain Batik Gentongan klasik diperlukan waktu pengerjaan hingga 1 tahun.
“Selain itu gentong-gentong yang dipergunakan pengrajin tertentu untuk menrendam batik tersebut merupakan warisan turun temurun, ada yang berusia 100 tahun, bahkan ada gentong yang telah berusia 200 tahun,” ungkap Maimona, wanita asal kecamatan Tanjung Bumi Bangkalan.
Maimona menjelaskan, cairi-ciri batik Gentongan selaras dengan cirri umum batik pesisiran, seperti pengemukaan warna-warni, selain itu batik gentongan selintas terlihat basah, padahal bila diraba tekstur kainnya halus dan kering.
“Ada sekitar 50 an motif batik klasik Gentongan yang berkembang di Madura dan dalam setiap lembar kain Batik Gentongan yang sudah jadi, terkandung begitu banyak cerita, tidak saja menyangkut proses teknik dan kesetiaan para pembatik, namun menyangkut sejarah, karakter demografis, adat istiadat dan tradisi,” ungkapnya.
Sementara itu, Edward Hutabarat, perancang busana sekaligus kurator seni budaya ternama, saat berkunjung ke Butik Pesona Batik Madura di Bangkalan mengatakan, bahwa batik gentongan tersebut merupakan satu-satunya batik yang prosesnya terlama di Indonesia bahkan di dunia namun kualitasnya terjamin jempolan, jika terus di cuci maka batik tersebut tambah bagus dan halus.
“Itu kelebihannya dari batik gentongan kalau di cuci tambah lembut dan dilihat kayaknya basah tapi kenyataannya tidak, bener batik kelas elit dari prosesnya saja sudah memakan waktu yang cukup lama,” ungkapnya.
Menurut Edward, untuk mengembangkan batik sebagai warisa budaya leluhur bangsa Indonesia, bahwa aspek bisni dan Making Money harus dikesampingkan, paling utama adalah cinta. “Berikan diri anda waktu untuk mengerti dan memahami lebih dalam khasanah Batik, mari bersama kita resapi jalani dan mencintai batik Indonesia,” ujarnya. (Mad Topek/ Mar)
Langganan:
Postingan (Atom)










































