Tampilkan postingan dengan label kotoran sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kotoran sapi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2012

Cara pembuatan Pupuk Organik dari Kototran Sapi

TECHNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK

Kesuburan lahan pertanian di Indonesia saat ini cenderung semakin menurun, banyaknya penggunaan pupuk kimia menyebabkan kerusakan struktur tanah yang sangat parah, solusinya adalah penggunaan pupuk organik. berikut ini saya posting bagaimana cara pembuatan pupuk organik versi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah Tahun 2011. Bahan-Bahan yang diperlukan berupa kotoran sapi, bekatul (dedak halus), air kelapa, starter berupa stardek atau EM4 pertanian, dan gula pasir.














Kotoran sapi yang telah menggunung lan lama ini cenderung mulai mengeras dan lengket. Supaya pengerjaannya mudah maka diperlukan penggemburan kotoran sapi. Caranya kotoran sapi dipisahkan dari tumpukan secukupnya, diperkirakan 1 resep atau dua resep, lalu diratakan ditanah dan dihancurkan sedikit deni sedikit dengan cangkul. Lalu dibiarkan semalaman minimal sebelum diolah.

Apabila adonan kotoran sapi dan bekatul telah bercampur dengan merata maka siramlah adonan tersebut dengan larutan fermentor. Lakukan penyiraman dua kali. Lakukan penyiraman dengan merata, lalu aduk adonan yang telah disiram larutan fermentor dengan merata menggunakan cangkul.


Selama proses fermentasi, setelah beberapa hari, maka adonan pupuk dalam karung akan mengalami pemanasan, dengan prakiraan panas antara 40-45°C. pengecekan dengan cara menempelkan tangan di karungnya, tangan yang sudah terbiasa bisa memperkirakan suku karung. Panas berlangsung selama 7-10 hari, lalu berangsur-angsur dingin lagi. Setelah minimal 14 hari maka pupuk bisa digunakan.

Senin, 17 Januari 2011

limbah sapi

Kotoran sapi terlihat menggunnung di setiap rumah warga yang memelihara sapi. Bagaimana cara memanfaatkannya? Kotoran sapi menimbulkan bau yang tidak sedap, apalagi kalau musim penghujan, untuk itu butuh penanganan khusus untuk mengolahnya. Padahal jika kita tahu, kotoran sapi sangat banyak manfaatnya, di anataranya untuk membuat pupuk organik padat, urine sapi untuk membuat pupuk organik cair, urine untuk obat semprot pembasmi hama tanaman, untuk membuat bio gas sebagai pengganti gas elpiji, dan masih banyak lagi manfaat lainnya dari pada tertumpuk menggunang dibiarkan begitu saja. Sebaliknya jika tidak diolah, kotoran sapi justru akan merugikan manusia karena menimbulkan pencemaran lingkungan yang membahayakan kesetahan kita, masyarakat di sekitarnya.

Pemanfaatan kotoran sapi akan sedikit mengurangi beban petani dan peternak terhadap biaya produksi. Pengolahan kotoran ternak dapat mengurangi berbagai persoalan pasca panen maupun sarana prasarana pertanian yang harus dihadapi petani. Bagaimana caranya? Pertanian dengan pola terpadu harus diterapkan yaitu, membentuk kesatuan rangkaian produksi yang saling terkait dan menunjang untuk membentuk kemandirian dalam mengelola bidang pertanian maupun peternakan. Salah satunya adalah dalam pengadaan pupuk, pengolahan hasil, dan penyediaan energi. Ketahanan pangan dan energi adalah dua hal yang sulit dipisahkan dan punya nilai sangat strategis dalam menghadapi persaingan global.

Pupuk Organik dari Kotoran Sapi

Kotoran sapi dapat dibuat menjadi pupuk organik, hal ini telah dilakukan oleh petani jaman dulu sekitar tahun 70-an. Mereka menyebutnya "lemon" atau pupuk kandang. Banyak manfaat dari penggunaan pupuk kandang ini, selain mengurangi biaya produksi, juga dapat mempertahankan kesuburan tanah dalam waktu yang lama. Agar lebih memberikan manfaat, kotoran sapi harus diolah dengan baik. Untuk membuat pupuk organik dari kotoran sapi, bahan yang diperlukan di antaranya yaitu kotoran sapi, bekatul, starter/stardek/EM4 pertanian, sedikit gula pasir, dan air. Cara pembuatannya, seluruh bahan dicampur dan diaduk hingga merata dan kemudian dibiarkan beberapa hari. Untuk info selengkapnya silahkan cari di blog ini tentang cara pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi.


Bio Gas dari Kotoran Sapi

Peneliti dari Pusat Penelitian Fisika – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Neni Sintawardani, menjelaskan bahwa bentuk ketahanan energi untuk mendukung ketahanan pangan, salah satunya berupa biogas. ”Biogas adalah energi alternatif terbarukan yang dapat dipergunakan secara langsung untuk memasak, penerangan bahkan untuk pembangkit listrik bagi masyarakat,” ujarnya. Contohnya saja, penggunaan biogas 1,7 m3 untuk memasak setara dengan penggunaan 1 liter minyak tanah.