Tampilkan postingan dengan label budidaya belut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya belut. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

Belut dan Nilai Gizinya

Belut adalah ikan air tawar yang banyak ditemukan di persawahan dan rawa-rawa yang memiliki bentuk seperti ular, yaitu bulat panjang dan berlendir/licin. Belut (Monopterus albus) merupakan ikan darat dari keluarga Synbranchidae dan tergolong ordo Synbranchiodae, yaitu ikan yang tidak mempunyai sirip atau anggota lain untuk bergerak. Meskipun ikan ini kelihatan tidak menarik, bahkan sebagian orang merasa jijik melihat apalagi memegangnya, namun di balik semua itu, ada sesuatu yang istimewa yang dimiliki oleh ikan yang sangat licin ini. Sesuatu yang istimewa itu adalah nilai gizinya yang sangat tinggi yang sangat baik sebagai lauk-pauk. Beberapa zat berguna yang terkandung di dalam daging belut, di antaranya adalah:
  1. Arginin. Arginin adalah asam amino nonesensial yang terdapat pada belut dapat memengaruhi produksi hormon pertumbuhan manusia yang populer dengan sebutan human growth hormone (HGH). HGH ini yang akan membantu meningkatkan kesehatan otot dan mengurangi penumpukan lemak di tubuh. Hasil uji laboratorium juga menunjukkan bahwa arginin berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara.
  2. Asam amino. Asam amino yang berguna bagi tubuh, yaitu leusin, lisin, asam aspartat, dan asam glutamat. Leusin dan isoleusin merupakan asam amino esensial yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak-anak dan menjaga kesetimbangan nitrogen pada orang dewasa.
  3. Hormon kalsitonin. Hormon ini memiliki berfungsi untuk yang sangat baik bagi kesehatan manusia, terutama untuk memelihara kekuatan tulang.
  4. Kalor/energi. Nilai energi belut sangat tinggi, yaitu 303 kkal per 100 gram daging belut. Nilai energi belut jauh lebih tinggi dibandingkan telur (162 kkal/100 g tanpa kulit) dan daging sapi (207 kkal per 100 g).  Hal itulah yang menyebabkan belut sangat baik digunakan sebagai sumber energi.
  5. Protein. Kandungan protein pada belut (18,4 g/100 g daging) setara dengan protein daging sapi (18,8 g/100g), tetapi lebih tinggi dari protein telur (12,8 g/100 g). Seperti jenis ikan lainnya, nilai cerna protein pada belut juga sangat tinggi, sehingga sangat cocok untuk sumber protein bagi bayi maupun usia lanjut.
  6. Zat besi. Kandungan zat besi pada belut adalah 20 mg/100 g, kandungan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan zat besi pada telur dan daging (2,8 mg/100g). Konsumsi 125 gram belut setiap hari telah memenuhi kebutuhan tubuh akan zat besi, yaitu 25 mg per hari. Zat besi sangat diperlukan tubuh untuk mencegah anemia gizi, yang ditandai oleh tubuh yang mudah lemah, letih, dan lesu. Zat besi berguna untuk membentuk hemoglobin darah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen tersebut selanjutnya berfungsi untuk mengoksidasi karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi untuk aktivitas tubuh. Itulah yang menyebabkan gejala utama kekurangan zat besi adalah lemah, letih, dan tidak bertenaga. Zat besi juga berguna untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.
  7. Fosfor. Kandungan fosfor pada daging belut, nilainya dua kali lipat fosfor pada telur. Tanpa kehadiran fosfor, kalsium tidak dapat membentuk massa tulang. Karena itu, konsumsi fosfor harus berimbang dengan kalsium, agar tulang menjadi kokoh dan kuat, sehingga terbebas dari osteoporosis. Di dalam tubuh, fosfor yang berbentuk kristal kalsium fosfat umumnya (sekitar 80 persen) berada dalam tulang dan gigi. Fungsi fosfor adalah sebagai pemberi energi dan kekuatan pada metabolisme lemak dan karbohidrat, sebagai penunjang kesehatan gigi dan gusi, untuk sintesis DNA serta penyerapan dan pemakaian kalsium. Kebutuhan fosfor bagi ibu hamil tentu lebih banyak dibandingkan saat-saat tidak mengandung, terutama untuk pembentukan tulang janinnya. Jika asupan fosfor kurang, janin akan mengambilnya dari sang ibu. Ini salah satu penyebab penyakit tulang keropos pada ibu. Kebutuhan fosfor akan terpenuhi apabila konsumsi protein juga diperhatikan.
  8. Vitamin A. Kandungan Vitamin A pada daging belut mencapai 1.600 SI per 100 g membuat belut sangat baik untuk digunakan sebagai pemelihara sel epitel. Selain itu, vitamin A juga sangat diperlukan tubuh untuk pertumbuhan, penglihatan, dan proses reproduksi.
  9. Vitamin B. Vitamin B umumnya berperan sebagai kofaktor dari suatu enzim, sehingga enzim dapat berfungsi normal dalam proses metabolisme tubuh. Vitamin B juga sangat penting bagi otak untuk berfungsi normal, membantu membentuk protein, hormon, dan sel darah merah.

Senin, 12 November 2012

Manisnya Budidaya Belut


Budidaya Belut sangat Menjanjikan

Belut adalah sejenis ikan yang hidup di air di persawahan, rawa-rawa,  atau di pinggiran sungai. Binatang ini menyerupai ular. Bentuknya panjang dan memiliki tubuh yang licin karena diselimuti oleh lendir. Meski sebagian orang merasa jijik terhadap jenis ikan ini, akan tetapi belut memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Daging binatang ini sangat baik jika dikonsumsi oleh anak-anak, kandungan proteinnya sangat tinggi, baik untuk masa pertumbuhan dan untuk membangun otak anak kita.

Sayangnya harga belut akhir-akhir ini sangat mahal, yaitu mencapai Rp. 30.000,- per kg, bahkan di daerah Pekalongan dan Pemalang, harga belut yang sudah dibakar harganya sangat tinggi, yaitu mencapai Rp. 50.000,- per kg. meskipun ikan belut memiliki harga yang sangat tinggi, namun permintaan pasar akan belut ini masih sangat tinggi pula, hal itu memang karena kesadaran masyarakat akan tingginya nilai gizi belut untuk kesehatan keluargannya, sehingga mereka tidak memperdulikan harga yang tinggi, yang penting kebutuhan gizi keluarga terpenuhi.
Mengingat akan hal itu, budidaya belut telah menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan dengan permintaan pasar yang tinggi. Produksi belut masih sangat terbatas karena belum ada teknologi pemijahan untuk komoditas ini, sehingga harga pasar menjadi sangat tinggi. Permintaan belut atau juga disebut unagi ini di pasar internasional mencapai 300.000 ton per tahun. Khusus untuk pasaran Jepang mencapai 150.000 ton per tahun. Selain Jepang, penggemar ikan berlendir ini adalah dari Hong Kong, Korea Selatan, Cina, dan Taiwan.

Direktur Jenderal Kelautan dan Perikanan Kementerian Perikanan Slamet Subiakto, dalam siaran pers, Minggu (22/04/2012), mengatakan, bahwa permintaan domestik akan ikan belut ini juga sangat besar dan belum dapat dipenuhi. Belut yang terdapat di pasaran lokal selama ini adalah hasil tangkapan langsung dari alam, baik dengan memancing, obor (mencari belut pada malam hari dengan lampu), ataupun setrum. Jumlah tangkapan belut yang langsung dari alam jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tidak mencukupi permintaan pasar, Apalagi pasar luar negeri, sedangkan pasar dalam negeripun belum tercukupi.

Kian menjamurnya restaurant Jepang di Jakarta, berdampak meningkatnya permintaan ikan ini. Diperkirakan permintaan belut di Jakarta sekitar 3 ton per bulan. Hal ini mendatangkan peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Kita harus mencari solusi agar dapat melakukan budidaya belut secara buatan. Layaknya budidaya lele yang sudah bisa melakukan pemijahan scara buatan oleh manusia. Jika lele bisa, mengapa belut tidak bisa. Pertanyaan ini marilah kita carikan jawabannya bersama dengan saling berbagi informasi.

Indonesia merupakan produsen belut terbesar di dunia, karena hampir semua sungi, rawa-rawa, dan persawahan dapat kita jumpai binatang ini, yaitu belut. Potensi ini harus kita kembangkan. Sebagai contoh di Jepang, mereka (ilmuwan Jepang) telah melakukan riset tentang teknik budidaya sidat yang mirip dengan belut. Kita tunggu saja, semoga pemerintah kita memperhatikan potensi ini, dan berupaya untuk memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan budidaya belut ini.

Nilai Gizi Belut

Belut memiliki nilai gizi yang sangat tinggi. Kandungan vitamin A ikan belut mencapai 15.000 IU/100 gram. Ini lebih tinggi dibandingkan dengan vitamin A yang terkandung dalam mentega yang hanya 1.900 IU/100 gram. Kandungan DHA belut adalah 1.337 mg/100 g, ini mengalahkan ikan salmon yang hanya 820 mg/100 mg/100 g juga mengalahkan ikan makarel yang hanya mengandung 748 g.

Terima kasih atas kunjungan Anda, mudah-mudahan artikel ini bermanfaat, mohon maaf atas segala kesalahan, pertanyaan, kritik, dan saran silahkan Anda tulis pada kotak komentar di bawah ini.

Sukses untuk Anda.