Tampilkan postingan dengan label budidaya rangrang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya rangrang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

Capung Salah Satu Makanan Kesukaan Rangrang


Capung dalam bahasa Jawa disebut dengan kinjeng adalah kelompok serangga yang tergolong ke dalam bangsa Odonata. Hewan ini banyak dijumpai di tempat yang banyak terdapat air, tempat mereka bertelur dan membesarkan anak-anaknya. Capung adalah salah satu hewan yang mempunyai sayap dan bisa terbang menyerupai helikopter. Hewan ini dapat kita temukan di pinggir-pinggir kali dan di sekitar rumah kita. Ternyata hewah ini bisa juga dimanfaatkan sebagai makanan semut rangrang. Capung merupakan salah satu makanan kesukaan semut rangrang.

Selain capung, semut rangrang juga menyukai berbagai macam serangga lainnya sebagai makanan mereka. Semut rangrang makan makanan yang banyak mengandung protein, ini berasal dari hewan-hewan kecil yang terdapat di alam. Selain serangga sebagai sumber protein (70%), semut rangrang juga membutuhkan gula sebanyak 30% sebagai minumannya. Hewan lain sebagai makanan rangrang, di antaranya adalah jangkrik, ulat, kupu-kupu, dan masih banyak lagi termasuk hama tanaman buah seperti kepik.

Kalau kita lihat dari makanannya, semut rangrang tergolong binatang karnivora, yaitu pemakan daging, sehingga bisa dipastikan telurnya (kroto) sangat banyak mengandung protein, sehingga sangat baik untuk makanan burung kicauan. Melihat begitu mudahnya makanan dan cara perawatan semut rangrang, maka ternak kroto menjadi semakin menguntungkan. Tetapi mengapa belum banyak orang yang melakukannya, sehingga pasokan kroto di pasaran masih sangat minim, hal ini yang menyebabkan melambungnya harga kroto. Di balik itu semua, ini menjadi sebuah keuntungan bagi para peternak kroto dan pencari kroto.


Dengan sedikit kerja keras, kita akan dapat memperoleh keuntungan yang besar, apalagi di musim penghujan dan hari raya, harga kroto sangat tinggi, bahkan di tingkat pengecer bisa mencapai Rp. 200.000,- per kilo gram. Berbeda dengan ternak lainnya, misalnya sapi, kambing, lele, gurame, dan lain-lain, yang membutuhkan biaya produksi yang sangat mahal dan waktu panen yang cukup lama. Bisa dikatakan bahwa, beternak semut rangrang penghasil kroto ini tidak membutuhkan biaya produksi, hanya modal awal saja ketika menyediakan bibit dan rak atau kandang tempat pemeliharaan.

Biaya produksi yang sangat murah, bahkan bisa dikatakan tidak ada membuat keuntungan beternak kroto menjadi semakin menguntungkan, coba bayangkan hanya dengan diberi makan capung atau orang jawa bila kinjeng, kita bisa memelihara semut rangrang sampai bisa menghasilkan telur emas. Capung atau kinjeng, jangkrik, belalang, dan ulat bisa kita dapatkan dengan mudah dari alam, kalaupun harus membeli jangkrik, dengan uang Rp. 5.000,- saja kita dapat memperoleh jangkrik dalam jumlah yang banyak, bahkan jangkrik tersebut, jika dibiarkan hidup untuk stok makan dapat dibiakkan pula.


Demikian sedikit gambaran tentang murah dan mudahnya beternak semut rangrang penghasil kroto, semoga bermanfaat, kita tidak tahu hasilnya selama kita belum menjalankannya. Mohon maaf atas segala kekurangan, terima kasih atas kunjungan anda.

Selasa, 02 April 2013

Kroto

 

Kroto adalah telur semut rangrang yang berwarna putih yang yang sebenarnya adalah larva dan pupa dalam proses metamorfosis semut dari telur menjadi semut. Telur ini di masyarakat lebih dikenal dengan nama kroto. Biasanya kroto digunakan untuk makanan burung kicauan, kegunaan lain adalah sebagai pakan umpan memancing. Meskipun kelihatannya kegunaannya sangat minim di kalangan tertentu, namun perlu kita ketahui bahwa kalangan tertentu itu ternyata kalangan atas yang nota bene, mereka tidak memikirkan harga untuk mendapatkan kroto ini.

Inilah salah satu penyebab tingginya harga kroto di pasaran. Selain itu ketersediaannya yang semakin menipis di alam menambah tinggi harga kroto. Ini merupakan peluang bisnis baru bagi mereka yang mengetahuinya. Alasan penggunaan kroto sebagai pakan burung adalah bahwa kroto kaya akan protein dan vitamin untuk menjaga kesehatan dan stamina burung kicauan. Selama ini kroto masih menjadi pakan paling berkualitas untuk burung kicauan meskipun di pasaran telah banyak dijual pakan burung buatan, namun kroto dirasa lebih baik karena masih alami.

Di alam, semut biasanya bersarang di pohon pohon yang tinggi, akan tetapi sering kita jumpai pula di pohon yang rendah, namun itu biasanya hanya sarang para semut pekerja dan semut prajurit. Jenis pohon yang disukai semut rangrang antara lain rambutan, mangga, dan jambu. Semut ini juga senang membuat sarang di pohon jati, sukun, dan mengkudu. Ukuran sarang cenderung mengikuti ukuran daun.

Pencarian kroto di alam menyebabkan keberadaanya semakin sulit ditemukan, ini akan sangat merugikan, karena agar kita tahu bahwa ternyata semut rangrang adalah merupakan predator alami yang dapat memberantan hama tanaman. Bisa kita perhatikan, pohon yang terdapat semut rangrang biasanya tidak terserang ulat dan pohon yang tidak ada semut rangrangnya biasanya mudah terserang ulat. Mengapa demikian? Semut rangrang yang hidup di alam biasanya memakan ulat dan hewan hama lainnya yang menyerang pohon.

Kehidupan semut rangrang memang identik dengan kehidupan masyarakat perdesaan. Bagi sebagian orang, kroto dari semut rangrang merupakan sumber penghasilan baru dan dianggap sebagai salah satu cara bagi masyarakat miskin untuk memperoleh penghasilan tambahan. Sebuah penghasilan yang bisa diperoleh secara cuma-cuma dan tanpa mengganggu waktu dan kegiatan bertani mereka. Dengan cara yang praktis dan mudah saja mereka bisa mendapatkan kroto semut rangrang tersebut.


Namun mereka tidak menyadari, bahwa pengambilan kroto langsung dari alam akan menyebabkan punahnya populasi semut rangrang, yang akibatnya predator alami menjadi berkurang dan justru hama tanaman akan semakin berkembang. Untuk mencegah hal itu, para pakar telah melakukan uji coba untuk beternak semut kroto ini secara modern, sehingga tidak merusak habitat aslinya di alam.

Untuk mengetahui bagaimana cara beternak semut rangrang secara modern, dapat disimak pada postingan selanjtnya. Demikian semoga bermanfaat.

Senin, 01 April 2013

Cara Pemindahan Kroto ke Toples

 


KTT Saraswati, Tambaharjo, Adimulyo, Kebumen
Ternak kroto atau telur semut rangrang sekarang ini masih menjadi topik pembicaraan yang hangat. Banyak penawaran pelatihan budidaya semut rangrang yang ditawarkan baik melalui online maupun offline. Seperti halnya kami yang telah mondar-mandir mencari cara untuk melakukan budidaya semut emas ini. Ada beberapa blog yang telah kami kunjungi, namun semuanya tidak berkenan memberikan ilmunya secara gratis, memang, ilmu itu mahal harganya, kami juga menyadari akan hal itu.

Sampai pada suatu blog yang dikelola oleh Pak Prabowo dari Jogja. Pada blog beliau ada tawaran bibit semut rangrang yang kami anggap paling murah, sehingga kami memutuskan untuk membelinya. Saat menulis artikel ini, kami sedang menunggu kedatangan kiriman bibit semut rangrang tersebut. Sementara menunggu kiriman bibit tersebut, kami berusaha untuk mencari sendiri bibit dari alam, alhamdulillah kami menemukan sarang semut kroto tidak jauh dari tempat tinggal kami.
Tanpa pikir panjang langsung kami ambil dan kami bawa pulang, dengan harapan itu sebagai uji coba sebelum kiriman bibit semut rangrang itu datang. Bibit dari alam langsung kami masukkan ke dalam toples sebagai media budidaya kroto. Toples bekas tempat astor dapat digunakan sebagai media budidaya semut rangrang. Toples dilubangi bagian bawahnya sekitar 2 cm dari permukaan bawah sebanyak dua lobang sebesar rokok. Lubang tersebut digunakan untuk keluar masuk semut ketika mencari makanan.

Toples kemudian dibalik dengan posisi tutup berada di bawah, toples diletakkan di atas batu bata. Batu bata diletakkan pada wadah atau tatakan berisi air guna membatasi semut supaya tidak keluar dari tempat pemeliharaan. Ada cara lain selain menggunakan wadah atau tatakan berisi air, yaitu menggunakan rak bambu dengan kaki 4. Kaki rak diletakkan di dalam wadah berisi air atau olie sebagai pembatas semut.

Menurut Pak Sopari, peternak pemula yang tinggal di Desa Sugihwaras Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen, koloni semut yang kita dapatkan dari alam dari pohon yang berbeda jangan disatukan, karena akan bermusuhan dan saling membunuh, karena mereka beda koloni dan beda keluarga, seperti hukum rimba siapa yang kuat dialah yang menang. Akan tetapi meskipun beda pohon, jika pohon itu berdekatan dan daunnya saling menempel, itu masih satu koloni satu keluarga sehingga mereka akan bisa hidup berdampingan meskipun sarang mereka berbeda.

Dalam satu keluarga, semut rangrang akan membuat beberapa sarang dalam satu pohon. Salah satu sarang yang terbesar, itu biasanya sebagai sarang utama, di mana tinggal sang ratu penghasil kroto, dan sarang-sarang lainnya di cabang yang lain adalah sarang semut pekerja dan pertahanan. Semut pekerja tugasnya mencari dan mengumpulkan makanan untuk keluarga mereka, sedangkan semut pertahanan layaknya TNI dan POLRI yang bertugas melindungi negara mereka berupa sarang sang ratu.

Sementara itu dulu yang dapat kami tuliskan. Kami akan menulis perkembangan budidaya semut rangrang atau budidaya kroto tahap demi tahap. Mari kita saling berbagi informasi dan pengalaman, semoga kita akan mendapatkan berkah dan ridho dari Allah SWT. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.