Tampilkan postingan dengan label penggemukan sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penggemukan sapi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Berkah Bagi Peternak Sapi

Musim Panen 2013 Telah Tiba


Kebahagiaan seorang peternak sapi di Desa Tambaharjo, ketika ditanya pendapatnya tentang musim panen 2013 ini. "Hore musim panen telah tiba,sapi jadi tidak kurang pakan.peternakpun merasakan berkah dari panen. Sebelum panen peternak merasakan begitu sulitnya cari pakan. Iya kalau peternak yang punya tanaman rumput gajah tidak begitu kerepotan, tapi yang ga' punya, setengah mati kita cari pakan, apalagi kalau ternaknya lebih dari dua. Tapi alhamdullilah panen telah datang membawa berkah bagi kita semua".

Itulah suara hati para peternak sapi, secara jujur mengungkapkan perasaannya, suka dukanya merawat sapi, hasil belum tentu, cape' sudah pasti, tetapi karena itulah profesi mereka, jadi harus bagaiman lagi? Ya harus tetp dijalani dengan tabah, dengan harapan sapinya akan beranak jika pembibitan, dan cepat gemuk jika usaha penggemukan sapi. Dengan bantuan motor butut, mereka mencari jerami untuk memberi makan sapi yang sudah dianggap sebagai keluarganya. Mudah-mudahan Allah selalu memberi rizki yang melimpah bagi kita semua.

Jerami

Damen/Jerami adalah pakan alternatif bagi ternak sapi ketika musim panen padi tiba. Selain sangat melimpah, jerami juga merupakan pakan sapi yang murah dan mudah untuk mendapatkannya. Bahkan bagi yang kreatif dan mau, jerami dapat menghasilkan tambahan uang jajan bagi keluargannya. Kok bisa? Ya bisa, karena tidak semua peternak sapi memiliki waktu luang untuk mencari jerami sendiri. Ada sebagian peternak yang karena sibuknya sehingga tidak mempunyai waktu untuk mencari jerami sendiri. Nah, ini menjadi kesempatan bagi peternak lain untuk memanfaatkannya. Dengn menjual sebagian jerami ke peternak yang membutuhkan.

Harga jerami ketika panen tiba memang tergolong murah, biasanya hanya sekitar Rp. 3.000,- hingga Rp. 5.000,- saja. Akan tetapi ketika bukan musim panen, harga jerami basah mencapai Rp. 7.000,- hingga Rp. 10.000,- per-ikat. Kalau sehri bisa menjual 3 ikat saja, maka peternak akan mendapatkan tambahan penghasilan sekitar Rp. 9.000,- sampai Rp. 15.000,-. Lumayan kan, sambil menyelam minum air. Sapi terpenuhi makanannya, sementara menghasilkan uang tambahan juga.


Fermentasi Jerami

Jerami banyak mengandung serat, sehingga cocok untuk makanan sapi, namun pemberian jerami tetap harus diimbangi dengan pemberian makanan tambahan seperti dedak halus (bekatul). Jerami dapat langsung diberikan kepada sapi sebagai makanannya, akan tetapi akan lebih bagus lagi, dilakukan fermentasi terlebih dahulu. Dengan fermentasi, selain gizi jerami naik, juga akan membantu pencernaan sapi. Fermentasi telah banyak dilakukan oleh peternak sapi di Indonesia, khususnya daerah sentra produksi padi, seperti Kabupaten Kebumen.

Seperti dikatakan oleh Drh. Yanuartono, MP, bahwa pemanfaatan pakan jerami fermentasi ditujukan untuk membantu peternak yang kesulitan mendapatkan pakan hijauan di saat musim kemarau. Selain itu, petani diajak untuk memanfaatkan limbah jerami yang melimpah saat musim panen tiba. Dengan pemanfaatan jerami tersebut, petani tidak harus menghabiskan waktunya untuk hanya sekedar mencari rumput untuk pakan ternak, akan tetapi dengan pemanfaatan jerami, petani akan memiliki waktu luang untuk bekerja. Sehingga penghasilan dari beternak sapi tidak menjadi utama, melainkan menjadi penghasilan tambahan.

Cara Pembuatan Fermentasi Jerami

Untuk memberikan manfaat lebih pada ternak sapi, pemberian jerami hendaknya terlebih dahulu dilakukan fermentasi. Menurut Drh. Yanuartono, MP fermentasi jerami dapat dibuat dengan cara yang cukup sederhana, yaitu hanya dengan mencampur jerami kering dengan polar dengan perbandingan 10 : 2, serta ditambahkan air secukupnya. Selanjutnya campuran jerami dan polar ini dimasukkan ke dalam tabung untuk dilakukan fermentasi selama satu minggu. “Pakan sapi ini siap dipanen, ditandai dengan aroma yang harum dan tekstur tidak berubah “ katanya. Selanjutnya Drh. Yanuartono, MP mengatakan bahwa, fermentasi jerami menghasilkan pakan sapi yang dapat mempercepat penyerapan sari makanan dalam tubuh sapi. Sapi membutuhkan waktu fermentasi terhadap seluruh makanan yang ditampung di dalam rumen. “Justru pakan alternative ini, fermentasi sudah dilakukan lebih dulu,” katanya.

Demikian artikel tentang pemanfaatan limbah jerami, mudah-mudahan bermanfaat.

Kamis, 06 Oktober 2011

kandang telah terisi dengan usaha penggemukan sapi

Kandang sapi yang sebelumnya telah disiapkan oleh kelompok kami, sekarang ini telah terisi penuh, Alhamdulillah. Para anggota merasa senang dan bahagia, mudah-mudahan usahanya di bidang peternakan khususnya pembibitan sapi membuahkan hasil.

Jika dikalkulasi ternyata lebih menguntungkan penggemukan sapi dari pada pembibitan sapi. Dalam waktu 6 (enam) bulan para peterkan sudah bisa memanen hasilnya, berbeda dengan pembibitan sapi, para peternak harus menunggu sampai 18 bulan, iya kalu beruntung sapinya bunting, kalau tidak bunting-bunting, kan rugi sudah bersusah payah memberi makan setiap hari selama 6 bulan ternyata sapi tidak bunting.

Berikut ini kami sampaikan cara penggemukan sapi versi Riza Imam Nugraha, S.Pt

Mengenal Manajemen Pakan Sistem Penggemukan Sapi
Oleh : Riza Imam Nugraha, S.Pt

Beberapa faktor yang sangat mempengaruhi sistem penggemukan pada ternak sapi adalah teknik pemberian pakan/ ransum, luas lahan yang tersedia, umur dan kondisi sapi yang akan digemukkan, serta lama penggemukan. Usaha penggemukan sapi perlu akan upaya untuk meningkatkan bobot sapi sebelum dijual. Banyak dijumpai para peternak tradisional mencari sapi yang telah pubertas, tetapi tubuhnya masih kurus. Tubuh yang kurus tersebut bisa jadi karena pemberian pakan yang kurang tepat.

Di luar negeri, penggemukan sapi dikenal dengan sistem pasture fattening, dry lot fattening, dan
kombinasi keduanya, sedangkan di Indonesia dikenal dengan sistem kereman atau sistem paron (Timor). Cara penggemukan sapi secara modern dilakukan dengan menggunakan prinsip feedlot, yaitu pemberian pakan sapi terdiri dari hijauan dan konsentrat yang berkualitas di dalam kandang.

a. Sistem dry lot fattening

Sistem dry lot fattening yaitu penggemukan sapi dengan memperbanyak pemberian pakan konsentrat. Jumlah pemberian hijauan hanya relatif sedikit sehingga efisiensi penggunaan pakan lebih tinggi. Perbandingan hijauan dan konsentrat berkisar antara 40:60 sampai 20:80. Perbandingan ini didasarkan pada bobot bahan kering (BK). Penggemukan sistem ini dilakukan di dalam kandang. Pakan hijauan dan konsentrat diberikan kepada sapi di dalam kandang. Jadi, pakan harus disediakan sesuai porsi waktu yang tepat. Pada sistem penggemukan ini sebaiknya hijauan selalu tersedia. Bila sapi masih terlihat lapar, hijauan diberikan lagi sehingga akan berimplikasi pada peningkatan laju pertambahan bobot tubuh. Program penggemukan dengan system ini ada yang dimulai dari anak sapi yang masih menyusu (pedetsusu). Atau, anakan sapi perah jantan yang sejak lahir telah diberikan ransum pakan berkualitas tinggi ditempatkan pada kandang khusus.

b. Sistem pasture fattening

Sistem penggemukan pasture fattening, yaitu sapi yang digembalakan di padang penggembalaan sepanjang hari. Dengan sistem ini, ada ternak yang tidak dikandangkan dan ada juga yang dikandangkan setelah malam hari atau pada saat matahari bersinar terik. Padang penggembalaan yang baik adalah padang tersebut ditumbuhi hijauan berupa rumput dan leguminosa. Sementara padang penggemabalaan yang hanya ditumbuhi rumput saja berdampak kurang baik bagi laju pertumbuhan sapi. Bila memungkinkan, padang gembalaan yang hanya ditumbuhi rumput  sebaiknya ditanamileguminosa agar kualitas pakan di padang menjadi lebih baik. Leguminosa mempunyai kemampuan untuk menangkap nitrogen sehingga tanah dibawahnyamenjadi lebih subur dan baik untuk pertumbuhan rumput. Selain itu, leguminosajugamemilikikandungan protein yang tinggi. Hal yang harus diperhatikan pada sistem ini adalah cara penggembalaan dalam rangka memanfaatkan hijauan sebaik mungkin. Pengaturan pemanfaatan hijauan jangan hanya di satu tempat saja. Bisa jadi hijauan pada satu tempat sudah habis, sedangkan di tempat lain masih belum termanfaatkan. Dengan demikian, perlu dilakukan rotasi pemanfaatan untuk mengatur pertumbuhan hijauan yang ada. Selain itu ketersediaan sumber air juga harus tercukupi.

c. Sistem kombinasi dry lot dan pasture fattening

Sistem ini merupakan perpaduan dry lot fattening. Pada sistem ini, bila musim hujan berlimpah maka sapi digembalakan di padang gembalaan dan tidak harus dikandangkan. Sementara pada musim kemarau, sapi dikandangkan dan diberi pakan penuh. Pada siang hari digembalakan di padang penggembalaan, sedangkan pada malam hari sapi dikandangkan dan diberi konsentrat. Sistem penggemukan ini membutuhkan waktu yang lebih lama daripada sistem dry lot fattening, tetapi lebih singkat daripada sistem pasture fattening. Sapi yang awalnya dipelihara di padang penggembalaan, kemudian beberapa bulan sebelum dijual diberi pakan konsentrat penuh, hasilnya lebih baik dibandingkan sapi yang dari awal pemeliharaan diberipakan hijauan dan konsentrat secara seimbang.

d. Sistem kereman

Sistem ini sebenarnya hampir sama dengan dry lot fattening, yaitu ternak sapi diberi pakan hijauan dan konsentrat serta sapi dikandangkan selama pemeliharaan. Bedanya, sistem kereman lebih banyak dilakukan oleh peternak tradisional dan pemberian pakannya masih tergantung dengan kondisi. Bila musim hujan, sapi diberi banyak pakan hijauan, tetapi bila musim kering sapi lebih banyak diberi pakan konsentrat.

Cara penggemukan sapi potong sistem kereman dilakukan dengan teknologi pemeliharaan sebagai berikut:

  1. Sapi dipelihara dalam kandang terus menerus dan tidak digembalakan. Ternak sapi hanya sewaktu-waktu dikeluarkan, yakni pada saat membersihkan kandang dan memandikan ternak sapi.
  2. Semua kebutuhan ternak, baik berupa kandang air minum disediakan oleh peternak secara tak terbatas.
  3. Cara penggemukan sistem ini mengutamakan pemberian pakan berupa campuran rumput, leguminosa dan makanan penguat.
  4. Sapi penggemukan tidak untuk dijadikan tenagakerja, hal ini bertujuan agar makanan yang dikonsumsi sepenuhnya diubah menjadi daging dan lemak sehingga pertumbuhan bobot badan meningkat secara cepat.
  5. Pada awal masa penggemukan, ternak sapi terlebih dahulu diberikan obat cacing.
  6. Untuk meningkatkan palatabilitas / nafsu makan perlu diberikan perangsang nafsu makan dan vitamin.
  7. Lama penggemukan berkisar 4 – 10 bulan. Hal ini tergantung dari kondisi awal dan bobot sapi yang digemukkan.
DaftarPustaka:

Yulianto. P dkk.,PembesaranSapiPotongSecaraIntensif (Jakarta: PenebarSwadaya, 2010)
Syafrialdkk.,ManajemenPengelolaanSapiPotong (Jambi: BPTP Jambi, 2007)
Sapi kurus. Sapi ini perlu digemukkan sebelum dijual agar diperoleh bobot tubuh yang diinginkan peternak
Usaha sapi sistem penggemukan kereman